Showing posts with label Alam. Show all posts
Showing posts with label Alam. Show all posts
TAMAN SUNGAI MUDAL

TAMAN SUNGAI MUDAL

wisata-jogja
Gambar 1.1 taman sungai mudal
Tak Sekedar Bermain Air di Bawah Naungan Gunung Kelir. Saat musim berganti dan hujan tak lagi membasahi bumi, Wisata Jogja air terjun musiman menjadi tak menarik lagi. Namun lain halnya dengan Wisata Jogja Air Terjun Mudal kini telah mempercantik diri dengan taman bunga warna-warni.

Jam Buka Taman Sungai Mudal
Senin - Minggu: pukul 08.00 - 17.00 WIB

Musim mulai beralih, udara basah dengan hujan sepanjang hari mulai berganti dengan cuaca terik berasal dari sengatan matahari. Dedaunan dari pohon-pohon hijau rimbun pun mulai menguning, mengering dan berjatuhan satu demi satu meninggalkan ranting-ranting. Sumber-sumber mata air mulai mengecil debitnya. Tebing-tebing yang biasa dialiri air terjun musiman dan menjadi salah satu buruan para penikmat Wisata Jogja blusukan. Namun kemarau nampaknya belum berpengaruh pada vegetasi rimbun di kawasan Wisata Jogja Menoreh. Pepohonan Wisata Jogja bagian barat ini tetap cantik dengan warna hijau zamrudnya. Seperti yang terlihat sepanjang perjalanan wisatawan menuju Wisata Jogja Taman Sungai Mudal.
wisata-jogja
Gambar 1.2 taman sungai mudal
Wisata Jogja Mudal adalah sebuah mata air memancar dari kedalaman gua Wisata Jogja  Girimulyo, Kulon Progo. Dinamakan Wisata Jogja Mudal karena sumber air ini selalu memancarkan air sepanjang tahun hingga dapat mencukupi kebutuhan air bersih bagi warga sekitar melalui pipa-pipa. Aliran airnya jernih juga meluap membentuk aliran sungai serta melewati air terjun dengan nama serupa, kemudian berlanjut hingga Wisata Jogja Air Terjun Kembang Soka dan Wisata Jogja Air Terjun Kedung Pedut letaknya lebih rendah.

Berawal dari kerja bakti masyarakat sekitar membersihkan daerah aliran sungai terbengkalai dan lebat oleh semak belukar, tepian Wisata Jogja Sungai Mudal sepanjang kira-kira 600 meter ini pun perlahan mempercantik diri menjelma menjadi sebuah destinasi nan menarik untuk didatangi. Sebelum dikelola pokdarwis setempat seperti saat ini, hanya Wisata Jogja Air Terjun Mudal membuat orang-orang tertarik untuk datang berkunjung. Itu pun hanya bisa dilakukan saat musim penghujan, ketika debit air terjun cukup deras.
wisata-jogja
Gambar 1.3 taman sungai mudal
Kolam alami berair jernih untuk berendam, berenang atau bermain air yang dibuat dengan membendung sungai menjadi sajian pembuka ketika sampai Wisata Jogja Taman Sungai Mudal. Berbagai jenis bunga terutama anggrek, terlihat mulai ditanam di sepanjang bantaran kolam alami. Uniknya Wisata Jogja ini siapapun dapat menyumbangkan benih tanaman atau bunga untuk mempercantik taman sungai melalui program "Trees of Hope", sebuah program titip tanam dilakukan Wisata Jogja Taman Sungai Mudal sebagai usaha pelestarian lingkungan. Sehingga tak hanya menikmati kecantikannya, sebagai pengunjung kita juga ikut serta menjaga layaknya simbiosis mutualisme.

Melewati sebuah jembatan bambu artistik yang dibangun diatas bendungan, wisatawan Wisata Jogja mencapai bagian tepi kolam lain lebih lapang dan banyak dibangun gazebo-gazebo beratap ijuk. Sisi ini juga terlihat area camping ground dengan background tebing batu Gunung Kelir sekilas memang menyerupai tempat untuk pertunjukan wayang. Menurut cerita masyarakat setempat, dinamakan Wisata Jogja Gunung Kelir karena tebing batu tersebut adalah tempat untuk pagelaran wayang zaman para wali.
wisata-jogja
Gambar 1.4 taman sungai mudal
Terlepas benar tidaknya legenda tentang sang tebing batu, Wisata Jogja Gunung Kelir menjadi daya tarik tersendiri di taman sungai ini. Selain bentuknya yang unik, keberadaan tebing batu Gunung Kelir membuat Wisata Jogja Taman Sungai Mudal semakin teduh, membentenginya dari serangan sinar matahari menyengat. Jika sedang beruntung kita bisa melihat kera ekor panjang (Macaca fascicularis) banyak ditemukan di kawasan Wisata Jogja Menoreh, menuruni tebing batu ini untuk mencari makanan.

Ketika sedang asyik menikmati pemandangan nan asri serta sejuknya udara pegunungan, tak sengaja mata kami tertumbuk pada tangga bambu kecil samping jembatan sebelumnya luput dari pandangan. Tangga bambu kecil ini mengantarkan saya ke Air Terjun Mudal dan beberapa kolam alami lainnya letaknya lebih rendah. Musim kemarau membuat aliran air terjunnya tak terlalu deras, hingga permukaan batuan yang biasanya tertutup aliran air kini hanya tertutup lumut, si tumbuhan perintis. Padahal jika debit air sedang deras, cukup seru melakukan rappelling dan water canyoning air terjun ini. Debit air kecil tak mengurangi keseruan kami bermain air nan biru di kolam-kolam alami. Menikmati udara pegunungan sambil mendengarkan gemericik air diselingi suara hewan-hewan penghuni pegunungan yang berdendang di kejauhan.
Read More
WANAGAMA

WANAGAMA

wisata-jogja
Gambar 1.1 wanagama
Sepenggal Kisah Reboisasi Hingga Pohon Jati Pangeran Charles. Tekad seorang srikandi masa kini bernama Oemi Han'in mampu mengubah lahan kritis bukit kapur menjadi hutan hijau. Sebuah mahakarya reboisasi yang telah membuat Pangeran Charles berkunjung ke Wisata Jogja Wanagama dan meninggalkan kenang-kenangan di sana.

Jam Buka Wanagama
Senin - Minggu: pukul 07.00 - 16.00 WIB

Wisata Jogja Wanagama meliputi empat desa di Kecamatan Patuk dan Playen, Gunung Kidul, berjarak tempuh satu jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor. Sepanjang perjalanan berjarak 35 kilometer tersebut, kita dapat melihat pemandangan indah kota Yogyakarta dari ketinggian. Sampai perempatan lampu merah setelah Rest Area Bunder, terdapat plang penunjuk jalan dengan tulisan Wanagama dan panah kanan. Wisatawan kemudian berbelok ke kanan menyusuri jalan kecil namun tetap beraspal. Gapura bertuliskan Hutan Wanagama seolah memberitahu pengunjung bahwa mereka telah tiba di hutan mulai dibangun sejak tahun 1964.
wisata-jogja
Gambar 1.2 wanagama
Menyusuri Wisata Jogja Wanagama masa sekarang, kita tak akan menyangka bahwa dahulunya tempat ini tandus dan gersang. Sebuah keadaan yang disebabkan oleh penebangan liar.Keprihatinan akan kritis dan tandusnya lahan tersebut menggerakkan beberapa akademisi dari Fakultas Kehutanan Gadjah Mada untuk menghijaukannya. Dimulailah pekerjaan besar mereboisasi daerah berjenis tanah mediteran coklat kemerahan tersebut.

Proyek penghijauan itu dipelopori oleh Prof. Oemi Hani'in Suseno dan menggeliat sejak tahun 1964. Dengan bermodal uang pribadi, guru besar peraih anugerah Kalpataru (penghargaan tertinggi di Indonesia untuk urusan lingkungan) tersebut menanami Wisata Jogja Wanagama pada saat itu hanya seluas 10 hektar.Kegigihan Prof. Oemi dan rekan-rekannya menanami lahan kritis menarik perhatian banyak pihak seperti pemerintah dan pecinta lingkungan. Mereka saling bekerjasama untuk mewujudkan Wisata Jogja Wanagama sehingga berupa hamparan hijau seluas 600 hektar seperti sekarang ini.
wisata-jogja
Gambar 1.3 wanagama
Hutan memang menawarkan sensasi kembali ke alam yang kental. Hal itu pula bisa didapat saat berwisata ke Wisata Jogja Wanagama. Wisata Jogja Wanagama kita seperti sedang berada miniatur hutan berisikan banyak tanaman dari berbagai daerah.Terdapat barisan jenis pepohonan akan menemani perjalanan menyusuri hijaunya Wisata Jogja Wanagama. Dimulai oleh pohon akasia, pohon penghasil bubur kayu menjadi primadona banyak perusahaan HTI (Hutan Tanaman Industri) di Indonesia. Dilanjutkan dengan pohon kayuputih, tanaman yang terkenal dengan minyak atsiri-nya berkhasiat untuk menghangatkan badan.

Selain itu ada juga barisan pohon pinus (Pinus merkusii). Deretan pohon banyak ditemukan di Sumatera bagian tengah ini cukup meneduhkan kala matahari bersinar dengan teriknya. Wisata Jogja Wanagama masih memiliki banyak pepohonan, misalnya eboni (Diospyros celebica) Si Kayu Hitam dari Sulawesi, cendana (Santalum album) Si Pohon Wangi, murbei (Morus Alba) dan jati (Tectona grandis).

Selain tanaman, Wisata Jogja Wanagama juga memiliki keindahan lain berupa tiga aliran air yakni Sungai Oya, Sendang Ayu, dan Banyu Tibo. Ketiganya menawarkan kesegaran dan kesejukan saat lelah menghampiri setelah mengelilingi Wisata Jogja Wanagama.

Wisata Jogja Wanagama memiliki satu pohon membuat tempat wisata ini mendunia.Tanaman itu adalah jati (Tectona grandis) ditanam Pangeran Charles saat berkunjung ke Wisata Jogja Wanagama pada tahun 1989. Konon terdapat hubungan unik antara pohon nan terkenal dengan sebutan Jati Londo ini dengan pernikahan Pangeran Charles dan Putri Diana. Saat bertinggi 1 m, pohon ini mengering berbarengan dengan pengumuman perpisahan pasangan Kerajaan Inggris tersebut. Entah apakah si pohon jati ikut berduka atas perceraian penanamnya.

Selain Jati Londo, Pangeran Charles juga meninggalkan rute menjadi favorit para pengunjung Wisata Jogja Wanagama. Rute tersebut berawal dari Wisma Cendana dan berakhir Bukit Hell. Jalan menuju bukit itu hanya sepanjang 50 meter di kanan kirinya terdapat banyak pohon cendana. Jati adalah salah satu jenis pohon yang paling banyak terdapat Wisata Jogja Wanagama. Tanaman ini terkenal karena keawetan dan kekuatannya. Kelebihan jati amat terkenal hingga diwaspadai oleh angkatan laut Kerajaan Inggris. Manual kelautan Inggris menyarankan untuk menghindari kapal jung Tiongkok terbuat dari jati karena dapat merusak baja kapal marinir Inggris jika berbenturan.
wisata-jogja
Gambar 1.4 wanagama
Wisata Jogja Wanagama tak hanya menjadi tempat tumbuh dan hidup berbagai jenis pepohonan, namun juga tempat bergantung hidup masyarakat sekitarnya. Masyarakat dan Wanagama bermitra serta menjalin hubungan yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Beternak sapi merupakan mata pencarian sebagian besar masyarakat sekitar Wisata Jogja Wanagama. Masyarakat diperbolehkan menanam rumput kalanjana di sela-sela lahan kosong Wanagama. Rumput tersebut menjadi makanan bagi sapi-sapi milik warga. Sebagai timbal baliknya, Wisata Jogja Wanagama mendapat pupuk kandang berasal dari kotoran ternak.

Selain itu, terdapat pula beberapa anggota masyarakat berjualan madu. Madu didapat dari peternakan lebah terdapat di sebelah timur laut Wanagama. Sama seperti rumput kalanjana, peternakan lebah juga berada di tengah rimbun lahan Wanagama. Stok madu biasanya berlimpah saat musim hujan, karena pada saat itu bunga bermekaran.Mengelilingi Wisata Jogja Wanagama memang cukup meletihkan, namun semua sebanding dengan kepuasan yang didapat. Kita akan terkagum dengan mahakarya reboisasi ini.
Read More
HUTAN PINUS MANGUNAN

HUTAN PINUS MANGUNAN

wisata-jogja
Gambar 1.1 hutan pinus mangunan
Berburu Foto di Tengah Ketenangan. Wisata Jogja Hutan Pinus Mangunan memang populer sebagai lokasi hunting foto bahkan pre-wedding. Deretan pinus tumbuh subur teratur tak kalah cantik dengan hutan-hutan sering dijadikan lokasi syuting film di luar negeri.

Jam Buka Hutan Pinus Mangunan
Senin - Minggu: pukul 06.00 - 17.00 WIB

Jogja pagi hari tampak lengang, tanpa banyak kendaraan berlalu-lalang. Saat matahari masih bersinar malu-malu dan sebagian orang lebih memilih bergelung dalam selimut, beberapa anak muda terlihat bersemangat mengayuh sepeda jalanan Wisata Jogja perbukitan Dlingo naik turun dan mengular. Tanpa bersusah payah mengucurkan peluh mengayuh sepeda, wisatawan Wisata Jogja pun melalui jalanan serupa pagi ini. Sebuah tanah lapang berada tepi jalan menjadi tempat pemberhentian kami.

Berseberangan dengan tempat kami mematikan mesin kendaraan, deretan Wisata Jogja pohon pinus menjulang memenuhi pandangan. Terbayang jika cuaca sedang berkabut, maka suasana hutan-hutan Pacific Northwest dapat dinikmati di Jogja.Wisata Jogja Hutan Pinus Mangunan, begitulah bagian dari hutan daerah kawasan RPH (Resort Pengelolaan Hutan) Mangunan ditumbuhi tanaman Pinus merkusi ini disebut. Lokasinya bisa ditempuh searah dengan situs makam Raja-Raja Imogiri membuat banyak orang salah menyebutnya menjadi Wisata Jogja Hutan Pinus Imogiri, terutama wisatawan yang berasal dari luar Jogja. Padahal secara administratif hutan pinus ini tidak termasuk kawasan Wisata Jogja Imogiri.
wisata-jogja
Gambar 1.2 hutan pinus mangunan
Sebelum menjadi salah satu destinasi wisata, kawasan Wisata Jogja Mangunan adalah sebuah tanah tandus kemudian direboisasi. Tak hanya pinus, jenis pohon lain seperti mahoni, akasia, kemiri dan kayu putih juga ditanam lahan luasnya kurang lebih 500 hektare ini. Kini kawasan Wisata Jogja Mangunan, terutama bagian ditanami pohon pinus tak hanya berfungsi sebagai hutan lindung namun juga dikelola sebagai salah satu tujuan wisata. Berbagai fasilitas seperti gardu pandang, panggung pertunjukan menyatu dengan alam, kamar mandi umum, mushola dan warung-warung sederhana pun telah dibangun di kawasan Wisata Jogja ini.

Tak hanya suasana hutan nan asri menarik perhatian banyak wisatawan, keberadaan sumber mata air Bengkung dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai lokasi pertapaan Sultan Agung Hanyakrakusuma pun menarik para peziarah untuk datang berkunjung. Untuk menemukan situs mata air kemudian dibangun pemerintah Belanda pada tahun 1925 hingga 1930 ini ada beberapa jalan bisa ditempuh, bisa dengan trekking dari tempat parkir menembus hutan rapat mengikuti jalur outbond Watu Abang atau jalan melingkar lebih jauh namun bisa ditempuh dengan sepeda atau sepeda motor.
wisata-jogja
Gambar 1.3 hutan pinus mangunan
Ketika kami menjejakkan kaki, tanah yang sebagian besar tertutup daun pinus kering bak permadani sinar matahari semakin menanjak tinggi dan terlihat mulai mengintip dari sela-sela batang pinus. Sinarnya menghangatkan mau tak mau mengusir dingin yang menemani semenjak kami datang. Celotehan segerombolan anak muda diselingi dengan tawa mulai mengisi keheningan tadinya hanya berisi suara gesekan dedaunan. Tak perlu waktu lama, beberapa dari mereka mulai asyik berpose dan mengabadikan gaya menggunakan kamera. Beratraksi berada atas batang-batang pinus telah bertransformasi menjadi bangku-bangu sederhana atau duduk di ayunan dengan pose manja.

Suasana Wisata Jogja hutan pinus yang selalu disebut-sebut seperti hutan di Forks atau kota-kota kecil lain Evergreen State dalam sebuah film jebolan Hollywood menjadi daya tarik tersendiri bagi para pencinta fotografi dan penggila selfie. Hingga tak heran Wisata Jogja hutan pinus ini sering didatangi untuk keperluan fotografi termasuk pre-wedding. Bahkan pokdarwis setempat sengaja membangun spot khusus saking seringnya tempat Wisata Jogja ini digunakan untuk pre-wedding. Selain view deretan pohon pinus mempercantik background foto, ada filosofi menarik tentang pohon pinus sebagai lambang cinta orang Korea.
wisata-jogja
Gambar 1.4 hutan pinus mangunan
Menurut mereka, pohon pinus berbatang tegak lurus adalah simbol cinta yang lurus dan tidak bercabang-cabang. Sedangkan daun pinus selalu hijau diibaratkan sebagai cinta yang tak pernah berakhir, Everlasting love.Sementara orang-orang heboh mengabadikan setiap momen dalam jepretan kamera, kami memilih untuk menikmati suasana Wisata Jogja hutan dalam ayunan hammock di bawah kanopi dedaunan pinus. Gemeresik gesekan daun dan ranting menjadi simfoni alam mampu melelapkan semua orang ke dalam khayalan. Suasana tenang di Wisata Jogja Hutan Pinus Mangunan mampu melenyapkan semua beban serta kerumitan yang memenuhi lorong-lorong pikiran.
Read More
GEOFOREST WATU PAYUNG

GEOFOREST WATU PAYUNG

wisata-jogja
Gambar 1.1 geoforest watu payung
Pengger Versi Update. Sudah banyak tahu mengenai Wisata Jogja Hutan Pinus Pengger, wanawisata favorit netizen. Namun hampir belum ada yang tahu tentang Wisata Jogja Geoforest Watu Payung, Wisata Jogja baru ini serupa tapi tak sama dengan Wisata Jogja Pengger.

Jam Buka Geoforest Watu Payung
Senin - Minggu: buka 24 jam

Kita semua sudah tahu Wisata Jogja Hutan Pinus Pengger, tempat Wisata Jogja yang sudah lebih dari setahun menjadi primadona di Yogyakarta. Pemandangannya memadukan teduhnya hutan pinus dengan indahnya lembah penuh cahaya membuat wisatawan Wisata Jogja rela berjauh-jauh datang ke sini, terutama pada petang hari. Karya-karya land art tersebar hutan ini makin menambah daya tariknya bagi wisatawan Wisata Jogja tidak sabar membagi momen liburan lini masa media sosial.

Namun, bagaimana dengan Geoforest Watu Payung? Terletak 27 KM ke arah tenggara titik 0 KM Yogyakarta, Wisata Jogja Geoforest Watu Payung adalah sebuah hutan jati tumbuh tepi jurang sebelah barat Pegunungan Sewu sekarang telah disulap menjadi sebuah tempat Wisata Jogja. Apa hubungannya hutan jati ini dengan Pengger? Bisa dibilang Wisata Jogja Watu Payung adalah Pengger versi update.
wisata-jogja
Gambar 1.2 geoforest watu payung
Pertama, keduanya sama-sama berada sedikit jauh dari Yogyakarta dan harus ditempuh dengan kendaraan sewaan. Bedanya, jalanan menuju Wisata Jogja Pengger lebih mudah ditempuh dan ramai dibandingkan jalanan menuju Wisata Jogja Geoforest, tidak hanya masih sepi tetapi juga lebih banyak tanjakannya dan lebih kasar jalanannya.

Keduanya Wisata Jogja tersebut punya sejarah paralel tetapi komposisi hutan berbeda. Seperti Wisata Jogja Pengger, Wisata Jogja Watu Payung dulunya juga merupakan hutan produksi kemudian dialih fungsikan menjadi objek Wisata Jogja. Bedanya, wisata Pengger terletak di Kabupaten Bantul adalah hutan pinus, sementara Geoforest dulunya adalah hutan produksi jati. Akibatnya, pertama terkesan lebih rindang dari yang kedua, apalagi pada musim kemarau. Lantai Wisata Jogja hutan Pengger juga kebanyakan adalah tanah, sementara lantai hutan Wisata Jogja Geoforest kebanyakan adalah bebatuan karang, menjelaskan dari mana nama hutan ini berasal.
wisata-jogja
Gambar 1.3 geoforest watu payung
Kedua Wisata Jogja itu juga sama-sama menawarkan pemandangan lembah nan indah. Wisata Jogja Wisata Pengger saat sore kita bisa menikmati hamparan hutan dan cahaya Yogyakarta di bawah. Kita bisa melihat dari atas matahari perlahan turun tepat depan mata kita. Tidak ada pemandangan sunset di sini, sebab matahari terbi sisi kiri sudut mata kita.
Keempat, Wisata Jogja Pengger dan Wisata Jogja Geoforest sama-sama telah disentuh tangan dingin Wisnu Ajitama bersama teman-temannya di Pandai Ruang. Seperti Wisata Jogja Pengger terkenal karena karya-karya land-art Wisnu, Wisata Jogja Geoforest juga sudah disulap Wisnu menjadi galeri karyanya masih konsisten berupa land art berbahan dasar tanaman saliara (Lana camara). Hanya saja, berbeda dengan Wisata Jogja Pengger dititipi Wisnu enam buah karya, Wisata Jogja Geoforest hanya memiliki empat buah karya yang ia kerjakan dengan bantuan teman-teman Pandai Ruang dan warga sekitar.
wisata-jogja
Gambar 1.4 geoforest watu payung
Kenapa saya menyebut Geoforest adalah Pengger versi update menandakan bukan hanya keberlanjutan, tetapi juga peningkatan? Sebab betul ada peningkatan. Dalam hal ini, peningkatan saya maksud adalah karya Wisnu Ajitama yang nampak semakin refined. Bila Wisata Jogja Pengger karya Wisnu masih terdiri dari gabungan bagian silangan dan pilinan, Wisata Jogja Geoforest ia sudah sama sekali meninggalkan bentuk menyilang terkesan kasar dan mengadopsi bentuk pilinan seluruhnya. Efek refined tersebut bersumber dari sini. Selain itu, peningkatan juga terjadi dari segi kecerdikan Wisnu menciptakan karyanya dengan memanfaatkan kemungkinan-kemungkinan estetis di lokasi.

Wisata Jogja Pengger karya Wisnu bisa dipindah-pindahkan sesuka hati tanpa mengubah nilainya (kecuali Pancawara). Tepat di tempat tinggi itu tumbuh juga pohon sekarang yang menjadi rangka dalam Wisnu. Kualitas sama juga berlaku untuk karya lainnya, misalnya Goro-Goro tentu terinspirasi dari bentuk cekung tebing tempatnya berdiri. Harold Bloom, seorang kritikus sastra, menganggap ciri puisi yang baik adalah inevitablity, juga berlaku untuk cabang seni yang lain ternyata.
wisata-jogja
Gambar 1.5 geoforest watu payung
Kekurangan-kekurangan saya indikasikan di atas tentu akan diperbaiki oleh pengelola seiring berkembangnya objek ini. Samping tetap menjaga kekayaan geologisnya, jelas Agus Priyino (salah satu anggota Pandai Ruang) telah begitu baik menjadi guide sukarela saya saat berkunjung ke Geoforest, pengelola akan menyeimbangkan kesan gersang bebatuan karang dengan menanam tanaman perdu dan rumput. Selain itu, pengelola juga akan membangun jalan setapak lebih baik, tempat ibadah, dan tempat makan sehingga fasilitas disini tidak akan kalah dengan adanya di Wisata Jogja Pengger.

Kekurangan tidak mungkin diperbaiki hanya kondisi alamiah tumbuhan jati saat kemarau. Namun begitu, Wisnu malah menganggap kontras antara karya seninya sekarang dipamerkan di Wisata Jogja Geoforest dengan cabang-cabang jati beserta dedaunan kering gugur akan menimbulkan efek lain. "Efek meditatif," terangnya. Mendengar ini saya mengangguk, mengalihkan pandangan saya pada Andum Tumtum dan jati-jati masih hijau di atas. Saya mencoba membayangkan kemarau turun membayangkan bagaimana sensasinya melihat karya curvey Wisnu bersanding dengan cecabang jati tajam.
Read More
DESA WISATA KETINGAN

DESA WISATA KETINGAN

wisata-jogja
Gambar 1.1 desa wisata ketingan
Tempat Tinggal Pilihan bagi Ribuan Burung Kuntul di Sleman. Suara ribuan burung kuntul terdengar ramai ketika memasuki kawasan Desa Wisata Jogja Ketingan. Sudah bertahun-tahun burung-burung itu memilih tinggal di pohon-pohon yang tinggi, berbagi tempat bersama warga sekitar dan hidup berdampingan.

Jam Buka Desa Wisata Ketingan
Senin - Minggu: buka 24 jam

Tak menyangka bahwa peresmian gapura dusun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X pada tahun 1997 silam menjadi awal kehidupan baru warga Dusun Ketingan, Desa Tirtoadi, Mlati, Sleman. Pasalnya, beberapa hari setelah itu, fenomena unik terjadi. Ribuan burung kuntul tiba-tiba saja datang membuat sarang hampir semua pohon tinggi di dusun itu. Uniknya lagi, burung-burung hanya tinggal Wisata Jogja Ketingan, tidak dusun lain meskipun dusun-dusun berdekatan memiliki vegetasi sama.
wisata-jogja
Gambar 1.2 desa wisata ketingan
Kedatangan burung-burung jumlahnya ribuan mau tak mau mengubah seluruh sisi kehidupan warga mulanya biasa saja menjadi luar biasa.Awalnya, kehadiran burung-burung ini dianggap sebagai hama oleh warga. Masyarakat setempat takut produksi buah melinjo menurun akibat pohonnya dijadikan tempat meletakkan sarang. Masyarakat juga khawatir kesehatan Wisatawan Wisata Jogja terganggu akibat kotoran burung banyak terdapat di pekarangan jalan-jalan dusun. Itulah sebabnya, beberapa warga sempat mencoba mengusir kuntul-kuntul.

Alih-alih pergi, malah berkembang biak jumlahnya bertambah banyak. Sampai akhirnya, warga sadar mau berbagi tempat hidup bersama mereka. Tak ada lagi mau memburu burung-burung dan papan-papan peringatan untuk tidak berburu burung Di Wisata Jogja Ketingan pun dipasang beberapa sudutnya. Bahkan, ketika anakan kuntul-kuntul terjatuh dari sarangnya, warga bersedia merawat hingga sembuh dan siap dilepas kembali ke habitatnya.Bagi para peneliti satwa dan pecinta burung, Wisata Jogja Ketingan merupakan surga.

Mengamati tingkah polah kuntul-kuntul jumlahnya mencapai 7.000 ekor tak pernah membosankan. Bahkan warga sekitar telah hidup bertahun-tahun bersama mereka pun masih selalu mengamatinya. Warga hafal betul saat kuntul-kuntul mencari makan, membuat sarang baru, musim kawin, musim menetas dan bermigrasi. Benar, pada bulan September kuntul-kuntul ini akan bermigrasi, meninggalkan Wisata Jogja Ketingan beberapa saat. Suara mereka tidak akan terdengar ramai tak ada pula pagi-pagi menemani petani mengolah sawah.
wisata-jogja
Gambar 1.3 desa wisata ketingan
Burung hilang sejenak, membiarkan warga kembali ke kehidupan normal seperti sebelum burung-burung ini datang. Barulah pada pertengahan bulan Oktober, kuntul-kuntul ini pulang, kembali membuat sarang hidup seperti biasanya.Selain mengamati burung, acara rutin Merti Bumi selalu diselenggarakan pada bulan September pun ikut menarik perhatian. Pada acara tersebut, berbagai pertunjukan seni budaya seperti Wisata Jogja pagelaran wayang, kirab dan kenduri sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta atas hasil bumi melimpah pun dapat disaksikan.

Memutuskan untuk tinggal di sana beberapa hari ikut larut dalam euforianya tentu akan menyenangkan. Jika tak sempat datang bulan September, cobalah live in beberapa hari sebelum masa panen raya ikut merayakan wiwitan (syukuran sebelum masa panen padi) atau datang sebelum masa tanam dan mengikuti tradisi angler (selamatan sebelum masa tanam padi). Selain pada acara-acara tersebut, Desa Wisata Jogja Ketingan tetap terbuka bagi ingin tahu dan belajar banyak tentang burung-burung ini sembari menikmati kesenian tradisional berupa gejog lesung, jathilan hingga pertunjukan pek bung (alat musik tradisional ditabuh terbuat dari kelenting).
wisata-jogja
Gambar 1.4 desa wisata ketingan
Ketika berkunjung ke Wisata Jogja ketingan jangan lupa untuk mengenakan topi atau pelindung kepala agar tak terkena kotoran burung. Bagi para pecinta fotografi, sebaiknya bawalah lensa tele untuk mengambil gambar burung karena mereka selalu berada dalam jarak nan cukup jauh. Agar tak kehilangan momen cobalah datang pagi atau sore hari ketika burung-burung ini sedang mencari makan sawah kemudian pulang ke sarang. Makin asyik lagi kalau kita mengunjunginya ketika musim petani membajak sawah. Kuntul-kuntul ini akan jelas terlihat tanpa terhalang tanaman padi. Rasanya, mendapat kesempatan mengunjungi melihat fenomena unik ini membuat kita sadar bahwa hidup berbagi dengan makhluk hidup lain itu indah dan menyenangkan.
Read More
PUNCAK BECICI

PUNCAK BECICI

wisata-jogja
Gambar 1.1 puncak becici
Senja yang Tersembunyi di Balik Wisata Jogja Deretan Pinus Merkusii
Tersembunyi di balik deretan tanaman pinus merkusii tumbuh menjulang, langit senja di Bantul terlihat begitu mempesona. Dan ketika gelap datang, panorama lautan bintang-bintang imitasi pun membuat siapa saja yang memandang berdecak penuh kekaguman.

Jam Buka Puncak Becici
Senin - Minggu: pukul 06.00 - 17.00 WIB

Saat wisatawan Wisata Jogja  memacu kendaraan ke selatan Jogja, sengatan matahari masih terasa membakar kulit meskipun posisinya mulai bergeser ke arah barat. Setelah memasuki kawasan Desa Muntuk, barulah kegarangannya mulai tergantikan dengan teduh dan sejuknya udara perbukitan. Pemandangan lahan-lahan terasering kemudian berlanjut deretan pohon-pohon pinus menemani sisa perjalanan wisatawan ke tempat tujuan hingga kami mendapat sambutan berupa gapura selamat datang. Tak jauh dari gapura, beberapa gubuk sederhana tampak memenuhi salah satu bahu jalan, berderet rapi berdampingan.

Gubuk-gubuk sederhana itulah warga setempat menjamu para pengunjung kawasan Wisata Jogja Puncak Pinus Becici minuman dan makanan ringan yang dijual. Roda-roda kendaraan kami masih melaju hingga ujung jalan bersemen, tempat kendaraan-kendaraan pengunjung lain diparkir. Selanjutnya kami masih harus berjalan melalui jalan setapak masuk ke dalam bagian hutan pinus lebih rapat.
wisata-jogja
Gambar 1.2 puncak becici
Menurut salah satu anggota pokdarwis setempat, Wisata Jogja hutan pinus dikenal sebagai daerah Hutan Sudimoro 1 atau Wisata Jogja Becici Asri ini masih merupakan bagian dari Hutan Lindung menuju bawah pengelolaan RPH Mangunan.Berbeda Wisata Jogjajogja Hutan Pinus Mangunan lebih dulu populer sebagai kawasan Wisata Jogja, Wisata Jogja Becici Asri awalnya hanya dikelola sebagai hutan produksi penghasil getah pinus untuk bahan dasar terpentin dan gondorukem.
Namun panorama dari bukit bagian baratlah membuat orang-orang berdatangan untuk menikmati keindahannya hingga kawasan ini pun berubah menjadi destinasi Wisata Jogja.Nama Wisata Jogja Becici terdengar asing di telinga pun sebenarnya memiliki cerita sejarah tersendiri. Becici berasal dari gabungan kata "ambeg" berarti berdiam diri dan kata suci, dua kata merujuk pada cerita turun temurun kepercayaan masyarakat setempat.

Cerita tentang putra pendiri Desa Muntuk bertapa bukit bagian barat hutan pinus dan kemudian ingin disemayamkan bukit yang sama ketika meninggal dunia. Terlepas dari benar tidaknya cerita tutur ini, Wisata Jogja puncak Bukit Becici memang ditemukan sebuah petilasan menyerupai makam.Suara daun pinus bergesekan diterpa angin menjadi melodi alam menemani perjalanan kami menembus hutan pinus. Hanya perlu waktu sekitar lima belas menit dari parkiran untuk mencapai Wisata Jogja puncak Bukit Becici.
wisata-jogja
Gambar 1.3 puncak becici
Tak hanya barisan pohon-pohon pinus tinggi menjulang, kami juga menemui bangku-bangku dari batang pinus, ayunan kayu, beberapa gazebo sederhana dan gardu pandang dengan pengamanan ala kadarnya sepanjang tepi jalan setapak. Terdapat pula area datar lumayan luas untuk bermain serta camping ground dengan jarak pohon pinus tak terlalu rapat. Semakin dekat dengan puncak bukit, jarak pohon-pohon pinus ini pun semakin renggang. Hingga matahari yang tadinya terhalang daun-daun pinus pun kembali menampakkan diri, semakin condong ke arah barat namun masih bersinar penuh semangat. Menyilaukan setiap mata mencoba menatapnya.

Wisata Jogja Puncak Becici memang spot nan tepat untuk menikmati saat-saat matahari terbenam karena bukit ini menghadap ke arah barat. Tak heran ketika kami tiba berada Wisata Jogja puncak, sudah banyak orang menunggu momen-momen pergantian siang menuju malam. Ada yang terlihat asik berfoto menuju atas gardu pandang. Beberapa lainnya tampak berfoto tepi tebing dekat dengan pagar besi pengaman.
wisata-jogja
Gambar 1.4 puncak becici
Sementara ada pula terlihat duduk-duduk gazebo dan bangku-bangku dari kayu pinus tumbang. Mungkin menunggu giliran untuk berpose di atas gardu pandang. Sebuah ayunan tak berpenghuni pun menjadi pilihan saya untuk menikmati landscape disuguhkan sambil menunggu kesempatan menaiki gardu pandang.Matahari semakin rendah ketika tiba giliran saya mencoba menaiki gardu pandang. Dengan ekstra hati-hati karena tak ada perlengkapan semacam tali pengaman, saya akhirnya bisa duduk atas papan dibangun pada sebatang pohon pinus ini. Ada sensasi menggelitik ketika tempat saya pijak ini sedikit bergoyang diterpa angin.

Namun tak ingin menyia-nyiakan waktu menunggu giliran lumayan panjang, saya mencoba melawan rasa takut dengan bertahan sedikit lebih lama duduk atas gardu pandang hingga langit semakin gelap dan matahari pun mulai menyelimuti dirinya dengan awan-awan lembut batas cakrawala. Tak ingin buru-buru beranjak, kami menunggu hingga langit benar-benar gelap, menunggu hingga bintang-bintang imitasi mulai bermunculan dan berpendar cantik mengisi bidang-bidang gelap di bawah kami.
Read More