Showing posts with label Candi. Show all posts
Showing posts with label Candi. Show all posts
CANDI SEWU

CANDI SEWU

wisata-jogja
Gambar 1.1 candi sewu
Simbol Bhinneka Tunggal Ika dari Nenek Moyang Indonesia. Wisata Jogja Candi Sewu tak sekadar didirikan sebagai tempat ibadah di masa Kerajaan Mataram Kuno. Lebih dari itu, nenek moyang mendirikan candi ini juga karena ada falsafah untuk anak cucunya. Salah satunya tentang persatuan bangsa.

Jika ditanya kapan masyarakat Indonesia pertama kali mendengar atau membaca semboyan bhinneka tunggal ika, mungkin mayoritas akan menjawab, "Saat masih di bangku sekolah dasar." Begitu pentingnya kebinekaan bagi bangsa Indonesia sampai-sampai sejak dini anak-anak telah ditanami wawasan itu. Semboyan itu bak di luar kepala untuk masyarakat Indonesia dewasa. Namun, apakah semboyan itu benar sudah meresap dalam sanubari setiap warga?

Nenek moyang Indonesia bukan tanpa alasan saat menciptakan semboyan bhinneka tunggal ika. Seperti kita ketahui dari buku teks SD, kata bhinneka tunggal ika ditemukan pada kitab Sutasoma dikarang oleh Mpu Tantular di zaman kerajaan Majapahit abad XIV. Namun, jauh sebelum itu, ternyata kebinekaan masyarakat itu sudah ditunjukkan saat Wisata Jogja Candi Sewu didirikan yakni pada tahun 754 Masehi.

Wisata Jogja Candi Sewu yang bernuansa agama Buddha merupakan tempat ibadah di zaman Kerajaan Mataram Kuno. Wisata Jogja Candi ini tak berdiri sendiri, melainkan bersama dengan Wisata Jogja candi-candi lain seperti Candi Bubrah, Candi Gana (Asu), Candi Lor, dan Candi Kulon membentuk kompleks candi Buddha di Kompleks Prambanan. Tersebarnya Wisata Jogja candi-candi Buddha di sekitar Wisata Jogja Candi Sewu mengisyaratkan mula-mula nenek moyang memiliki keyakinan Buddha.
wisata-jogja
Gambar 1.2 candi sewu
Lambat laun, berkembanglah keyakinan Hindu di tengah-tengah Kerajaan Mataram Kuno. Perbedaan keyakinan itu tak membuat mereka saling bermusuhan. Saling memperseterukan keyakinan hanya akan membuat hidup kian terbebani dan tak tenang. Alih-alih bermusuhan, umat Buddha dan umat Hindu malah secara bergantian memimpin Kerajaan Mataram Kuno. Itulah kehidupan: meski memiliki keyakinan yang berbeda, setiap manusia tetap akan saling membutuhkan.

Sukses menciptakan kompleks Wisata Jogja candi Buddha, nenek moyang bersama-sama dari Hindu maupun Buddha mendirikan mahakarya Wisata Jogja Candi Prambanan yang bercorak Hindu di dekat kompleks candi Buddha pada tahun 856 Masehi. Inilah bukti bahwa bhinneka tunggal ika sangat dalam meresap ke dalam hati para nenek moyang bahkan jauh sebelum dituliskan dalam kitab.

"Benar dulu ada kata-kata bhinneka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa, berbeda-beda tetapi tetap satu, tidak ada darma atau keyakinan yang mendua. Pada waktu itu Hindu Buddha satu kesatuan, sehingga ketika awal bermuasalnya adanya Kerajaan Mataram Kuno pada waktu itu mereka satu keturunan," ungkap Koordinator Publikasi dan Pemanfaatan Budaya Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, Wahyu Kristanto. "Tetapi ada keturunan beragama Hindu yang mendirikan Wangsa Sanjaya, kemudian keturunan yang beragama Buddha mereka mendirikan Wangsa Syailendra," lanjutnya.
wisata-jogja
Gambar 1.3 candi sewu
Secara administratif Wisata Jogja Candi Sewu terletak di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Jaraknya kurang dari satu kilometer ke arah utara dari Wisata Jogja Candi Prambanan. Memasuki Wisata Jogja Candi Sewu dapat melalui empat pintu masuk yang berada di setiap arah penjuru mata angin. Kala memasuki pintu masuk Wisata Jogja candi ini kita akan menemukan sepasang patung raksasa Dwarapala. Patung ini berfungsi untuk menetralkan energi negatif setiap orang yang masuk.

Lebih masuk ke dalam, tampak reruntuhan batu-batu candi berpencaran di berbagai tempat sehingga menciptakan suasana melankolis. Mayoritas Wisata Jogja candi ini saat ditemukan memang dalam keadaan tidak utuh. Butuh waktu puluhan tahun lagi untuk bisa mengembalikan ke keadaan utuh kembali, meskipun pemugaran telah secara bertahap dilakukan oleh pihak pemerintah.

Wisata Jogja Candi Apit akan menyambut kita saat berjalan ke dalam lagi. Dari arah mata angin mana pun, kita akan melewati Candi Apit ini. Tak luput juga terdapat banyak Wisata Jogja Candi Perwara (pendamping) yang mengelilingi candi induk. Satu kesatuan Wisata Jogja Candi Sewu itu memiliki nama asli Manjushri Graha. Nama ini tertulis di dalam prasasti yang ditemukan. Namun, masyarakat kemudian memberi nama Wisata Jogja Candi Sewu karena mereka biasa menyebut benda yang jumlahnya banyak dengan sebutan "sewu."

Di bagian candi induk dikelilingi oleh empat penampil di arah penjuru mata angin. Struktur penampilnya berdiri sendiri, seakan sebagai bangunan tambahan. Seluruh penampil ini terhubung dengan struktur bilik utama. Secara arsitektur Wisata Jogja Candi Sewu dan Wisata Jogja Candi Prambanan hampir sama konstruksinya. Perbedaannya, jika di Wisata Jogja Candi Sewu penampilnya masih ada lorongnya, sedangkan Wisata Jogja Candi Prambanan sudah menjadi satu sehingga bisa membuat bangunan yang tinggi.
wisata-jogja
Gambar 1.4 candi sewu
Relief di Wisata Jogja Candi Sewu tidak menampilkan cerita seperti di Wisata Jogja Candi Prambanan karena fungsi utama candi ini adalah untuk menyembah Dewa Manjushri, bukan sebagai persembahan untuk raja. Di dinding-dinding Candi Sewu memuat gambar-gambar tumbuh-tumbuhan dan makhluk penghuni alam semesta seperti manusia, buto, dan sebagainya. Wisata Jogja Candi Sewu dan seluruh candi corak Buddha memiliki tiga tingkatan, yakni kamadhatu yaitu dunia manusia sekarang yang masih penuh dengan nafsu dan dosa, dunia manusia yang telah disucikan 'rupadhatu', dan dunia para dewa 'arupadhatu.' Bagian arupadhatu di Wisata Jogja Candi Sewu berada di atap candi.

Daya tarik Wisata Jogja Candi Sewu telah diakui oleh badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yakni United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai kompleks Wisata Jogja candi dengan nuansa Buddha terbesar di Indonesia bersama-sama dengan Candi Lumbung, Candi Bubrah, Candi Sewu, dan Candi Gana. Selain mengajarkan untuk menjaga kerukunan umat beragama, dengan adanya Wisata Jogja Candi Sewu dan candi-candi lainnya, nenek moyang mengajarkan falsafah penting kepada anak cucunya. Ajarannya yakni untuk bertakwa kepada Tuhan, kegotong-royongan antar manusia, memelihara lingkungan sekitar, dan menerima pengaruh dari luar dengan tetap menjaga ciri khas Indonesia. Secara tersirat, dengan adanya candi-candi, nenek moyang ingin mengajarkan untuk menjaga keseimbangan dengan Tuhan, manusia, dan alam.
Read More
CANDI PLAOSAN

CANDI PLAOSAN

wisata-jogja
Gambar 1.1 candi plaosan

Candi Kembar dekat Prambanan
Wisata Jogja Candi Plaosan yang dibangun Rakai Pikatan memiliki beberapa keunikan dibanding candi lain, yaitu dua candi utamanya "kembar" serta teras yang permukaannya halus. Wisata candi ini juga terdapat figur Vajrapani, Amitbha, dan Prajnaparamitha.

Jam Buka Candi Plaosan
Senin - Minggu: pukul 06.00 - 17.00 WIB

Anda tak perlu terburu-buru kembali ke penginapan usai berkunjung ke Wisata Jogja Candi Prambanan, sebab tidak jauh dari candi Hindu tercantik di dunia itu anda juga akan menemui candi-candi lain sama menariknya. Melaju ke utara sejauh 1 km, anda akan menemui Wisata Jogja Candi Plaosan, sebuah candi dibangun oleh Rakai Pikatan untuk permaisurinya, Pramudyawardani. Terletak di Dusun Bugisan Kecamatan Prambanan, arsitektur candi ini merupakan perpaduan Hindu dan Budha.
wisata-jogja
Gambar 1.2 candi plaosan
Kompleks Wisata Jogja Plaosan dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu Wisata Jogja Candi Plaosan Lor, Candi Plaosan Kidul. Kedua candi itu memiliki teras berbentuk segi empat dikelilingi oleh dinding, tempat semedi berbentuk gardu bagian barat serta stupa di sisi lainnya. Karena kesamaan itu, maka kenampakan Wisata Jogja Candi Plaosan Lor, Kidul hampir serupa jika dilihat dari jauh sehingga sampai sekarang Wisata Jogja Candi Plaosan juga sering disebut candi kembar.

Bangunan Wisata Jogja Candi Plaosan Lor memiliki halaman tengah dikelilingi oleh dinding dengan pintu masuk sebelah barat. Pada bagian tengah halaman itu terdapat pendopo berukuran 21,62 m x 19 m. Pada bagian timur pendopo terdapat 3 buah altar, yaitu altar utara, timur dan selatan. Gambaran Amitbha, Ratnasambhava, Vairochana, Aksobya terdapat daerah altar timur. Stupa Samantabadhara dan figur Ksitigarbha daerah altar utara, sementara gambaran Manjusri terdapat di altar barat.
wisata-jogja
Gambar 1.3 candi plaosan
Wisata Jogja Candi Plaosan Kidul juga memiliki pendopo bagian tengah dikelilingi 8 candi kecil terbagi menjadi 2 tingkat dan tiap-tiap tingkat terdiri dari 4 candi. Ada pula gambaran Tathagata Amitbha, Vajrapani dengan atribut vajra pada utpala serta Prajnaparamita dianggap sebagai "ibu dari semua Budha". Beberapa gambar lain masih bisa dijumpai namun tidak pada tempat yang asli. Figur Manujri menurut seorang ilmuwan Belanda bernama Krom cukup signifikan juga bisa dijumpai.

Bagian Bas relief candi ini memiliki gambaran unik pria dan wanita. Terdapat seorang pria digambarkan tengah duduk bersila dengan tangan menyembah serta figur pria dengan tangan vara mudra dan vas kaki yang dikelilingi enam pria lebih kecil. Seorang wanita digambarkan sedang berdiri dengan tangan vara mudra, sementara sekelilingnya terdapat buku, pallet dan vas. Krom berpendapat bahwa figur pria wanita itu adalah gambaran patron supporter dari dua wihara.

Seluruh kompleks Wisata Jogja Candi Plaosan memiliki 116 stupa perwara dan 50 candi perwara. Stupa perwara bisa dilihat di semua sisi candi utama, demikian pula candi perwara ukurannya lebih kecil. Bila berjalan ke bagian utara, anda bisa melihat bangunan terbuka disebut Mandapa. Dua buah prasati juga bisa ditemui, yaitu prasasti di atas keping emas di sebelah utara candi utama dan prasasti yang ditulis di atas batu di Candi Perwara baris pertama.
wisata-jogja
Gambar 1.4 candi plaosan
Salah satu kekhasan Wisata Jogja Candi Plaosan adalah permukaan teras nan halus. Krom berpendapat teras candi ini berbeda dengan teras candi lain dibangun di masa yang sama. Menurutnya, hal itu terkait dengan fungsi candi kala itu diduga untuk menyimpan teks-teks kanonik milik para pendeta Budha. Dugaan lain berasal dari para ilmuwan Belanda, jika jumlah pendeta di wilayah itu sedikit maka mungkin teras itu digunakan sebagai sebuah wihara (tempat ibadah umat Budha).

Jika melihat sekeliling candi, anda akan tahu bahwa Wisata Jogja Candi Plaosan sebenarnya merupakan kompleks candi nan luas. Hal itu dapat dilihat dari adanya pagar keliling sepanjang 460 m dari utara ke selatan serta 290 m dari barat ke timur, juga interior pagar terdiri atas parit sepanjang 440 m dari utara ke selatan dan 270 m dari barat ke timur. Parit menyusun bagian interior pagar itu bisa dilihat dengan berjalan ke arah timur melewati sisi tengah bangunan bersejarah ini.
Read More
CANDI TARA

CANDI TARA

wisata-jogja
Gambar 1.1 candi tara
Peninggalan Budha Tertua di Yogyakarta. Candi Tara adalah Wisata Jogja candi yang dipersembahkan untuk Dewi Tara yang dinding luarnya dilapisi semen kuno. Wisata Jogja Candi Budha tertua di Yogyakarta ini dibangun oleh Rakai Panangkaran, raja dari dinasti Syailendra nan juga mengkonsep pendirian Wisata Jogja Borobudur.

Banyak orang selalu menyebut Wisata Jogja Borobudur saat membicarakan bangunan candi Budha. Padahal, ada banyak Wisata Jogja candi bercorak Budha, salah satu nya Wisata Jogja Candi Tara. Candi yang terletak di Kalibening, Kalasan ini dibangun oleh konseptor Borobudur, yaitu Rakai Panangkaran. Karena letaknya di daerah Kalasan, maka Wisata Jogja candi ini lebih dikenal dengan nama Candi Kalasan.

Selesai dibangun pada tahun 778 M, Candi Tara menjadi Wisata Jogja candi Budha tertua Yogyakarta. Wisata Jogja Candi yang berdiri tak jauh dari Jalan Yogya Solo ini dibangun sebagai penghargaan atas perkawinan Pancapana dari Dinasti Sanjaya dengan Dyah Pramudya Wardhani dari Dinasti Syailendra. Selain sebagai hadiah perkawinan, Wisata Jogja candi itu juga merupakan tanggapan usulan para raja untuk membangun satu lagi bangunan suci bagi Dewi Tara dan biara bagi para pendeta.
wisata-jogja
Gambar 1.2 candi tara
Candi Tara adalah bangunan berbentuk dasar bujur sangkar dengan setiap sisi berukuran 45 meter dan tinggi 34 meter. Bangunan Wisata Jogja candi secara vertikal terdiri dari tiga bagian, yaitu kaki candi, tubuh candi dan atap candi. Bagian kaki candi adalah sebuah bangunan berdiri dialas batu berbentuk bujur sangkar dan sebuah batu lebar. Pada bagian itu terdapat tangga dengan hiasan makara di ujungnya. Sementara, sekeliling kaki candi terdapat hiasan sulur-suluran yang keluar dari sebuah pot.

Tubuh candi memiliki penampilan menjorok keluar di sisi tengahnya. Bagian permukaan luar tubuh candi terdapat relung dihiasi sosok dewa memegang bunga teratai dengan posisi berdiri. Bagian tenggaranya memiliki sebuah bilik   dalamnya terdapat singgasana bersandaran dihiasi motif singa berdiri diatas punggung gajah. Bilik tersebut dapat dimasuki dari bilik penampil sisi timur.
wisata-jogja
Gambar 1.3 candi tara
Bagian atap candi berbentuk segi delapan dan terdiri dari dua tingkat. Sebuah arca yang melukiskan manusia Budha terdapat pada tingkat pertama sementara pada tingkat kedua terdapat arca  melukiskan Yani Budha. Bagian puncak candi berupa bujur sangkar melambangkan Kemuncak Semeru dengan hiasan stupa-stupa. Pada bagian perbatasan tubuh candi dengan atap candi terdapat hiasan bunga makhluk khayangan berbadan kerdil disebut Gana.

Bila anda mencermati detail candi, anda juga akan menjumpai relief-relief cantik pada permukaannya. Misalnya relief pohon dewata dan awan beserta penghuni khayangan yang tengah memainkan bunyi-bunyian. Para penghuni khayangan itu membawa rebab, kerang dan camara. Ada pula gambaran kuncup bunga, dedaunan dan sulur-suluran. Relief di Wisata Jogja Candi Tara memiliki kekhasan karena dilapisi dengan semen kuno disebut Brajalepha, terbuat dari getah pohon tertentu.
wisata-jogja
Gambar 1.4 candi tara
Sekeliling candi terdapat stupa-stupa dengan tinggi sekitar 4,6 m berjumlah 52 buah. Meski stupa-stupa itu tak lagi utuh karena bagiannya sudah tak mungkin dirangkai utuh, anda masih bisa menikmatinya. Mengunjungi Wisata Jogja candi sejarah berdirinya diketahui berdasarkan Prasasti Candi yang berhuruf Panagari ini, anda akan semakin mengakui kehebatan Rakai Panangkaran yang bahkan sempat membangun bangunan suci Thailand.

Wisata Jogja Candi ini juga menjadi bukti bahwa pada masa lalu telah ada upaya untuk merukunkan pemeluk agama satu dengan yang lain. Terbukti, Panangkaran yang beragama Hindu membangun Wisata Jogja Candi Tara atas usulan para pendeta Budha dan dipersembahkan bagi Pancapana yang juga beragama Budha. Wisata Jogja Candi ini pulalah yang menjadi salah satu bangunan suci yang menginspirasi Atisha, seorang Budhis asal India yang pernah mengunjungi Borobudur dan menyebarkan Budha ke Tibet.
Read More
CANDI PRAMBANAN

CANDI PRAMBANAN

wisata-jogja
Gambar 1.1 candi prambanan
Wisata Jogja Candi Hindu Tercantik di Dunia
Candi Prambanan adalah mahakarya kebudayaan Hindu dari abad ke-10. Bangunannya langsing dan menjulang setinggi 47 meter membuat kecantikan arsitekturnya tak tertandingi.
Wisata Jogja Candi Prambanan adalah bangunan luar biasa cantik dibangun di abad ke-10 pada masa pemerintahan dua raja, Rakai Pikatan dan Rakai Balitung. Menjulang setinggi 47 meter (5 meter lebih tinggi dari Wisata Jogja Candi Borobudur), berdirinya Wisata Jogja candi ini telah memenuhi keinginan pembuatnya, menunjukkan kejayaan Hindu di tanah Jawa. Wisata Jogja Candi ini terletak 17 kilometer dari pusat kota Yogyakarta, di tengah area kini dibangun taman indah.

Ada sebuah legenda selalu diceritakan masyarakat Jawa tentang Wisata Jogja candi ini. Alkisah, lelaki bernama Bandung Bondowoso mencintai Roro Jonggrang. Karena tak mencintai, Jonggrang meminta Bondowoso membuat candi dengan 1000 arca dalam semalam. Permintaan itu hampir terpenuhi sebelum Jonggrang meminta warga desa menumbuk padi dan membuat api besar agar terbentuk suasana seperti pagi hari. Bondowoso baru dapat membuat 999 arca kemudian mengutuk Jonggrang menjadi arca ke-1000 karena merasa dicurangi.
wisata-jogja
Gambar 1.2 candi prambanan
Wisata Jogja Candi Prambanan memiliki 3 candi utama di halaman utama, yaitu Wisata Jogja Candi Wisnu, Wisata Jogja Brahma, dan Wisata Jogja Siwa. Ketiga Wisata Jogja candi tersebut adalah lambang Trimurti dalam kepercayaan Hindu. Ketiga Wisata Jogja candi itu menghadap ke timur. Setiap candi utama memiliki satu candi pendamping menghadap ke barat, yaitu Nandini untuk Siwa, Angsa untuk Brahma, dan Garuda untuk Wisnu. Selain itu, masih terdapat 2 candi apit, 4 candi kelir, dan 4 candi sudut. Sementara, halaman kedua memiliki 224 candi.

Memasuki Wisata Jogja candi Siwa terletak di tengah dan bangunannya paling tinggi, anda akan menemui 4 buah ruangan. Satu ruangan utama berisi arca Siwa, sementara 3 ruangan yang lain masing-masing berisi arca Durga (istri Siwa), Agastya (guru Siwa), dan Ganesha (putra Siwa). Arca Durga itulah disebut-sebut sebagai arca Roro Jonggrang dalam legenda diceritakan di atas.
wisata-jogja
Gambar 1.3 candi prambanan
Di Wisata Jogja Candi Wisnu terletak di sebelah utara Wisata Jogja candi Siwa, anda hanya akan menjumpai satu ruangan yang berisi arca Wisnu. Demikian juga Wisata Jogja Candi Brahma terletak di sebelah selatan Wisata Jogja Candi Siwa, anda juga hanya akan menemukan satu ruangan berisi arca Brahma.

Candi pendamping  cukup memikat adalah Wisata Jogja Candi Garuda terletak di dekat Wisata Jogja Candi Wisnu. Wisata Jogja Candi ini menyimpan kisah tentang sosok manusia setengah burung yang bernama Garuda. Garuda merupakan burung mistik dalam mitologi Hindu bertubuh emas, berwajah putih, bersayap merah, berparuh dan bersayap mirip elang. Diperkirakan, sosok itu adalah adaptasi Hindu atas sosok Bennu (berarti 'terbit' atau 'bersinar', biasa diasosiasikan dengan Dewa Re) dalam mitologi Mesir Kuno atau Phoenix dalam mitologi Yunani Kuno. Garuda bisa menyelamatkan ibunya dari kutukan Aruna (kakak Garuda yang terlahir cacat) dengan mencuri Tirta Amerta (air suci para dewa).

Kemampuan menyelamatkan itu dikagumi oleh banyak orang sampai sekarang dan digunakan untuk berbagai kepentingan. Indonesia menggunakannya untuk lambang negara. Konon, pencipta lambang Garuda Pancasila mencari inspirasi di candi ini. Negara lain yang juga menggunakannya untuk lambang negara adalah Thailand, dengan alasan sama tapi adaptasi bentuk dan kenampakan berbeda. Di Thailand, Garuda dikenal dengan istilah Krut atau Pha Krut.
wisata-jogja
Gambar 1.4 candi prambanan
Wisata Jogja Prambanan juga memiliki relief candi memuat kisah Ramayana. Menurut para ahli, relief itu mirip dengan cerita Ramayana yang diturunkan lewat tradisi lisan. Relief lain yang menarik adalah pohon Kalpataru dalam agama Hindu dianggap sebagai pohon kehidupan, kelestarian dan keserasian lingkungan. Di Prambanan, relief pohon Kalpataru digambarkan tengah mengapit singa. Keberadaan pohon ini membuat para ahli menganggap bahwa masyarakat abad ke-9 memiliki kearifan dalam mengelola lingkungannya.

Sama seperti sosok Garuda, Kalpataru kini juga digunakan untuk berbagai kepentingan. Di Indonesia, Kalpataru menjadi lambang Wahana Lingkungan Hidup (Walhi). Bahkan, beberapa ilmuwan di Bali mengembangkan konsep Tri Hita Karana untuk pelestarian lingkungan dengan melihat relief Kalpataru di Wisata Jogja candi ini. Pohon kehidupan itu juga dapat ditemukan pada gunungan digunakan untuk membuka kesenian wayang. Sebuah bukti bahwa relief yang ada di Prambanan telah mendunia.

Kalau cermat, anda juga bisa melihat berbagai relief burung, kali ini burung nyata. Relief-relief burung di Wisata Jogja Candi Prambanan begitu natural sehingga para biolog bahkan dapat mengidentifikasinya sampai tingkat genus. Salah satunya relief Kakatua Jambul Kuning (Cacatua sulphurea) mengundang pertanyaan. Sebabnya, burung itu sebenarnya hanya terdapat di Pulau Masakambing, sebuah pulau di tengah Laut Jawa. Lalu, apakah jenis itu dulu pernah banyak terdapat di Yogyakarta? Jawabannya silakan cari tahu sendiri. Sebab, hingga kini belum ada satu orang pun yang bisa memecahkan misteri itu.

Nah, masih banyak lagi nang bisa digali di Wisata Jogja Prambanan. Anda tak boleh jemu tentunya. Kalau pun akhirnya lelah, anda bisa beristirahat di taman sekitar Wisata Jogja candi.
Read More
CANDI SAMBISARI

CANDI SAMBISARI

wisata-jogja
Gambar 1.1 candi sambisari
21 Tahun Merangkai "Puzzle Batu Raksasa"
Setelah terkubur selama ratusan tahun, bongkahan pertama ditemukan pada tahun 1966. Memerlukan waktu 21 tahun untuk menggali dan merangkai ratusan keping "puzzle" dari batu itu sebelum akhirnya Wisata Jogja Candi Sambisari berhasil direkonstruksi. Tak ada perasaan aneh menghinggapi Karyowinangun pada sebuah pagi di tahun 1966. Tapi sebuah kejadian langka dialaminya di sawah kala itu, ketika sedang mengayunkan cangkulnya ke tanah. Cangkul yang diayunkan ke tanah membentur sebuah batu besar setelah dilihat memiliki pahatan pada permukaannya. Karyowinangun dan warga sekitar pun merasa heran dengan keberadaan bongkahan batu itu.

Dinas kepurbakalaan mengetahui adanya temuan itu pun segera datang dan selanjutnya menetapkan areal sawah Karyowinangun sebagai suaka purbakala. Batu berpahat yang ditemukan itu diduga merupakan bagian dari Wisata Jogja candi yang mungkin terkubur di bawah areal sawah. Penggalian akhirnya dilakukan hingga menemukan ratusan bongkahan batu lain beserta arca-arca kuno. Dan benar, batu-batu itu memang merupakan komponen sebuah candi.

wisata-jogja
Gambar 1.2 candi sambisari
Selang 21 tahun sesudahnya, keindahan Wisata Jogja candi akhirnya bisa dinikmati. Bangunan Wisata Jogja candi yang dinamai Sambisari itu berdiri megah di Dusun Sambisari, Kelurahan Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman, 10 kilometer dari pusat kota Yogyakarta.  kami sempat kaget ketika sampai di areal Wisata Jogja candi. Saat mengarahkan pandangan ke tengah areal Wisata Jogja candi, hanya tampak susunan batu atap yang seolah hanya bertinggi beberapa meter di atas tanah. kami bertanya-tanya, apa benar Wisata Jogja Candi Sambisari hanya sekecil itu? Setelah mendekat, barulah kami mendapat jawabannya. Ternyata, Wisata Jogja Candi Sambisari berada 6,5 meter lebih rendah dari wilayah sekitarnya.
Wisata Jogja Candi Sambisari diperkirakan dibangun antara tahun 812 - 838 M, kemungkinan pada masa pemerintahan Rakai Garung. Kompleks Wisata Jogja candi terdiri dari 1 buah candi induk dan 3 buah candi pendamping. Terdapat 2 pagar yang mengelilingi kompleks Wisata Jogja candi, satu pagar telah dipugar sempurna, sementara satu pagar lainnya hanya ditampakkan sedikit di sebelah timur candi. Masih sebagai pembatas, terdapat 8 buah lingga patok yang tersebar di setiap arah mata angin.

Bangunan Wisata Jogja candi induk cukup unik karena tidak mempunyai alas seperti Wisata Jogja candi di Jawa lainnya. Kaki candi sekaligus berfungsi sebagai alas sehingga sejajar dengan tanah. Bagian kaki candi dibiarkan polos, tanpa relief atau hiasan apapun. Beragam hiasan yang umumnya berupa simbar baru dijumpai pada bagian tubuh hingga puncak candi bagian luar. Hiasan itu sekilas seperti motif-motif batik.
wisata-jogja
Gambar 1.3 candi sambisari
Menaiki tangga pintu masuk Wisata Jogja candi induk, anda bisa menjumpai hiasan berupa seekor singa yang berada dalam mulut makara (hewan ajaib dalam mitologi Hindu) yang menganga. Figur makara di Sambisari dan merupakan evolusi dari bentuk makara di India yang bisa berupa perpaduan gajah dengan ikan atau buaya dengan ekor yang membengkok.

Selasar selebar 1 meter akan dijumpai setelah melewati anak tangga terakhir pintu masuk Wisata Jogja candi induk. Mengelilinginya, anda akan menjumpai 3 relung yang masing-masing berisi sebuah arca. Di sisi utara, terdapat arca Dewi Durga (isteri Dewa Siwa) dengan 8 tangan yang masing-masing menggenggam senjata. Sementara di sisi timur terdapat Arca Ganesha (anak Dewi Durga). Di sisi selatan, terdapat arca Agastya dengan aksamala (tasbih) yang dikalungkan di lehernya.

Memasuki bilik utama Wisata Jogja candi induk, bisa dilihat lingga dan yoni berukuran cukup besar, kira-kira 1,5 meter. Keberadaannya menunjukkan bahwa Wisata Jogja candi ini dibangun sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa. Lingga dan yoni di bilik Wisata Jogja candi induk ini juga dipakai untuk membuat air suci. Biasanya, air diguyurkan pada lingga dan dibiarkan mengalir melewati parit kecil pada yoni, kemudian ditampung dalam sebuah wadah.
wisata-jogja
Gambar 1.4 candi sambisari
Keluar dari Wisata Jogja candi induk dan menuju ke barat, anda bisa melihat ketiga  Wisata Jogja candi perwara (pendamping) yang menghadap ke arah berlawanan. Ada dugaan bahwa Wisata Jogja candi perwara ini sengaja dibangun tanpa atap sebab ketika penggalian tak ditemukan batu-batu bagian atap. Bagian dalam candi perwara tengah memiliki lapik bujur sangkar yang berhias naga dan padmasana (bunga teratai) berbentuk bulat cembung di atasnya. Kemungkinan, padmasana dan lapik dipakai sebagai tempat arca atau sesajen.

Bila telah puas menikmati keindahan Wisata Jogja candi, anda bisa menuju ke ruang informasi. Beberapa foto yang menggambarkan lingkungan sawah Karyowinangun sebelum digali dan kondisi awal Wisata Jogja candi ketika ditemukan bisa ditemui. Ada pula foto-foto tentang proses penggalian dan rekonstruksi Wisata Jogja candi yang berjalan puluhan tahun, termasuk foto benda-benda lain yang ditemukan selama penggalian, berupa arca dari perunggu yang kini disimpan di Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala.

Keindahan Wisata Jogja Candi Sambisari yang kini bisa kita nikmati merupakan hasil kerja keras para arkeolog selama 21 tahun. Wisata Jogja Candi yang semula mirip puzzle raksasa, sepotong demi sepotong disusun kembali demi lestarinya satu lagi warisan kebudayaan agung di masa silam.
Read More
CANDI PAWON

CANDI PAWON

wisata-jogja
Gambar 1.1 candi pawon
Titik Tengah Tiga Wisata Jogja Candi Buddha
Berbeda dengan candi-candi lain tertutup rapat, Wisata Jogja Candi Pawon memiliki lubang angin pada biliknya. Candi Pawon menjadi titik tengah penghubung Wisata Jogja Candi Mendut dan Wisata Jogja Candi Borobudur. Wisata Jogja Candi Pawon merupakan candi yang terletak tepat di sumbu garis penghubung Candi Mendut dan Candi Borobudur. Candi berbentuk persegi empat dengan atap bertingkat dan sebuah bilik di dalamnya ini berukuran jauh lebih kecil dibandingkan dengan Wisata Jogja Candi Mendut. Letak Wisata Jogja Candi Pawon cukup tersembunyi, dikelilingi rumah penduduk.

Tersusun dari batuan vulkanik dengan perpaduan gaya bangunan Hindu Jawa kuno dan India, serta kemiripan corak ragam hias dengan Wisata Jogja Candi Mendut dan Wisata Jogja Candi Borobudur, para ahli sepakat bahwa ketiga candi ini dibangun pada abad yang sama. Hal ini dipertegas dengan Prasasti Kayumwungan atau Prasasti Karangtengah bertanggal 26 Mei 824 Masehi.
wisata-jogja
Gambar 1.2 candi pawon
Saat kami tiba di Wisata Jogja Candi Pawon suasana terlihat begitu tenang. Tembang Jawa mengalun pelan entah berasal dari rumah warga atau kios penjual suvenir. Hiasan kala makara terpampang di atas pintu masuk candi. Atap candi yang berbentuk limas dihiasi dengan stupa-stupa berukuran kecil. Sebagai penggambaran dari Gunung Meru, di dinding Wisata Jogja Candi Pawon terdapat relief mahluk kayangan seperti kinara-kinari (burung berkepala manusia), relief pundi-pundi, relief pohon kalpataru atau pohon hayati, dan relief bodhisattva. Semua relief tersebut terpahat pada dinding luar candi. Sedangkan di dalam candi, tidak ada satupun relief atau arca yang ditemui, yang ada hanyalah bilik kosong.
wisata-jogja
Gambar 1.3 candi pawon
Menyoal nama candi, kata pawon sendiri memiliki beragam makna dan penafsiran. Dalam Bahasa Jawa kata pawon berarti dapur atau tempat yang biasa digunakan untuk memasak. J.G. de Casparis mengatakan bahwa kata pawon berasal dari kata perawuan atau perabuan. Sedangkan penduduk sekitar mengungkapkan bahwa kata pawon berasal dari pawuan yang berarti tempat pembuangan atau pembakaran sampah. Semua kata tersebut merujuk pada satu hal yakni adanya api atau proses pembakaran di Wisata Jogja Candi Pawon. Entah hipotesis mana yang benar, namun di dalam bilik candi terdapat 6 lubang angin berfungsi sebagai tempat keluarnya asap hasil pembakaran.

Lubang angin ini tentu saja menjadi pembeda arsitektur Wisata Jogja Candi Pawon dengan candi-candi lain yang biliknya tertutup rapat. Selain dinamakan Wisata Jogja Candi Pawon, penduduk lokal juga menyebutnya dengan nama Wisata Jogja Candi Brajanalan yang berasal dari kata vajra (halilintar) dan anala (api).
wisata-jogja
Gambar 1.4 candi pawon
Sesaat sebelum meninggalkan Wisata Jogja Candi Pawon, benak kami diliputi oleh berbagai pertanyaan. Mungkinkah pada suatu masa Candi Pawon digunakan sebagai tempat kremasi seorang raja? Digunakan sebagai tempat pembakaran peralatan sisa-sisa ritual keagamaan? Atau digunakan sebagai tempat peristirahatan para peziarah sebelum mencapai Borobudur? Semua pemikiran itu memenuhi benak kami dan menjadikan perjalanan ini lebih bermakna, tidak hanya bersenang-senang semata.

Read More
CANDI KIMPULAN

CANDI KIMPULAN

wisata-jogja
Gamba 1.1 candi kimpulan
Wisata Jogja Candi yang Rinci di Perguruan Tinggi UII
Kompleks perpustakaan Universitas Islam Indonesia (UII) tampak berbeda dengan perpustakaan-perpustakaan di perguruan tinggi lain. Bangunan tinggi  terdiri dari delapan lantai itu berbentuk melengkung hampir setengah lingkaran. Lalu di bagian bawahnya terdapat kawasan melingkar dipagari dinding.

Tujuan kami datang ke perpustakaan UII bukanlah untuk meminjam atau mengembalikan buku. Namun, kami ingin menilik Wisata Jogja candi saat penemuannya berita bertubi-tubi muncul di media. Secara kebetulan, UII yang pada 2009 akan membangun pondasi untuk perpustakaan malah menemukan candi. Dengan ditemukannya candi ini, UII menjadi satu-satunya kampus yang memiliki candi.

Untuk sampai ke candi, kami memang harus memasuki perpustakaan. Sejumlah persyaratan sebelum memasuki candi seperti melapor ke petugas dan mengisi buku tamu pun kami laksanakan. Sampai saat kami mendatangi Wisata Jogja candi ini di bulan Juni 2018. Saat selesai dengan urusan yang harus dilakukan sebelum memasuki Wisata Jogja candi, kami pun ditemani penjaga museum  Wisata Jogja candi, Safi. Memang, setelah Wisata Jogja candi ini ditemukan dan dilakukan ekskavasi, penunjang  Wisata Jogja candi seperti museum pun diciptakan.
wisata-jogja
Gambar 1.2 candi kimpulan
Namanya adalah Wisata Jogja Candi Kimpulan. Nama ini disesuaikan dengan nama lokasi penemuannya yaitu di Dusun Kimpulan, Desa Umbulmartani, Ngemplak, Sleman karena belum ditemukan prasasti di dekat candi. "Belum ditemukan prasasti di dekat candi ini. Jadi namanya disesuaikan nama daerahnya," kata Safi. Ia memaparkan bila pihak UII juga telah memberikan nama Candi Pustakasala, lantaran keberadaannya di kompleks perpustakaan.

Wisata Jogja Candi Kimpulan ditemukan pada kedalaman kurang lebih 2,1 meter di bawah permukaan tanah. Kala ditemukan, candi ini secara keseluruhan dalam keadaan yang baik meskipun tertimbun endapan-endapan sedimen. Material-material yang menimbun  Wisata Jogja Candi Kimpulan sudah dapat dipastikan tidak lepas dari aktivitas Gunung Merapi. Bangunan candinya sendiri disusun dari batuan andesit dibentuk dan diukir dengan rapi serta disusun tanpa menggunakan perekat/semen.

Wisata Jogja Candi Kimpulan memiliki bentuk minimalis. Di tepinya terdapat pagar batu terbuat dari batu gundul (boulder) membentuk sebuah bidang persegi direkatkan dengan tanah liat. Untuk melihat Wisata Joggja candi ini lebih dekat, kami harus melompati batu-batuan. Menuju ke tengah, terhampar dua candi yang berupa lantai tinggi.  Wisata Jogja Candi yang menghadap ke timur dan berbentuk persegi merupakan candi induk. Beberapa ornamen ditemukan di dinding candi, berupa kala berpola antefiks, relief orang duduk memegang tangkai teratai, dan roset (teratai dan mutiara). Di dalam  Wisata Jogja candi ini terdapat lingga-yoni, wadah gerabah, arca Ganesha, dan umpak batu. Peripih dan wadah perunggu berasal dari dalam lubang yoni, bawah lantai, dan bawah umpak juga ditemukan di candi yang lebar pintu hanya 60 sentimeter.
wisata-jogja
Gambar 1.3 candi kimpulan
Sedangkan Wisata Jogja candi yang lain  menghadap ke barat adalah candi perwara. Wisata Jogja Candi ini berbentuk persegi panjang. Di dalam candi ditemukan lingga yoni, lapik berornamen, arca Nandi, dan struktur batu menyerupai bak penampung air. Lebar pintu perwara ini lebih kecil dari candi induk, yakni 52 sentimeter.

Wisata Jogja Candi Kimpulan saat ditemukan tidak terdapat dinding bilik dan atap bangunan. Diperkirakan atapnya menggunakan bahan organik mudah lapuk yang bisa terbuat dari bambu atau kayu. Asumsi ini berdasarkan temuan umpak atau tumpuan tiang penyangga atap di lantai candi induk dan perwara.

Meskipun memiliki konstruksi sederhana, Wisata Jogja Candi Kimpulan memiliki kualitas konstruksi baik. Hal ini terlihat dari teknik pengerjaan Wisata Jogja candi yang bagus, apalagi pahatan-pahatan ornamennya sangat halus. Seperti yang terlihat pada arca Ganeshanya. Saat awal ditemukan, kondisi arca ini tampak detail dan tidak ada kecacatan. Begitu juga dengan ornamen kala, relief di sisi luar pintu selatan candi induk, dan antefiks sudut barat daya candi induk yang tampak jelas dan detail.

Terkesan menarik bila menelaah tentang Wisata Jogja Candi Kimpulan yang jelas-jelas memiliki nilai lebih. Menariknya adalah kualitas konstruksi itu menggambarkan bila masyarakat pendirinya telah mempunyai kemampuan dalam aspek teknis konstruksi. Apalagi Wisata Jogja candi ini masih berada dalam keadaan utuh meski tertimbun lahar dalam beberapa meter.
wisata-jogja
Gambar 1.4 candi kimpulan
Menurut Safi, Wisata Jogja Candi Kimpulan bukanlah candi yang didirikan atas titah raja, tetapi atas kehendak masyarakat. Menilik dari temuan wadah gerabah di wadah cerat yoni candi induk, fungsi Wisata Jogja Candi Kimpulan merupakan bangunan untuk pemujaan. Sedangkan penemuan 12 buah batu bundar dimungkinkan sebagai tempat untuk prasarana upacara. Adanya patung Dewa Ganesha, menurut Safi, juga mengisyaratkan bila Wisata Jogja candi ini dulunya digunakan sebagai tempat pemujaan. Adanya Dewa Ganesha ini sekaligus bukti latar belakang keagamaan masyarakat pendukungnya, yakni agama Hindu.

Sampai saat ini, belum semua bagian dari situs Wisata Jogja Candi Kimpulan diteliti secara tuntas. Situs ini dilestarikan untuk dimanfaatkan sebagai sarana penelitian dan pendidikan. Melihat Wisata Jogja Candi Kimpulan di lokasi kampus UII ini kita bisa melihat kearifan bertenggang rasa dan kerukunan antar umat beragama untuk bagian minoritas tetap dapat bereksistensi di wilayah mayoritas. Hal ini menjadi contoh bila perbedaan tidak untuk diperdebatkan tetapi bisa saling mengisi tanpa saling memengaruhi.
Read More
ISTANA RATU BOKO

ISTANA RATU BOKO

wisata-jogja
Gambar 1.1 istana ratu boko

Kemegahan di Bukit Penuh Kedamaian. Wisata Jogja Istana Ratu Boko adalah kompleks istana megah yang dibangun pada abad ke-8. Bangunan ini bisa dikatakan termegah di jamannya itu dibangun oleh salah satu kerabat pendiri Borobudur.

Jam Buka Ratu Boko
Senin - Minggu: pukul 06.00 - 17.00 WIB

Wisata Jogja Istana Ratu Boko adalah sebuah bangunan megah dibangun pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran, salah satu keturunan Wangsa Syailendra. Istana ini awalnya bernama Abhayagiri Vihara (berarti biara di bukit yang penuh kedamaian) ini didirikan untuk tempat menyepi, memfokuskan diri pada kehidupan spiritual. Berada istana ini, anda bisa merasakan kedamaian sekaligus melihat pemandangan kota Yogyakarta dan Candi Prambanan dengan latar Gunung Merapi.
wisata-jogja
Gambar 1.2 istana ratu boko
Wisata Jogja istana ini terletak 196 meter di atas permukaan laut. Areal istana seluas 250.000 m2 terbagi menjadi empat, yaitu tengah, barat, tenggara, dan timur. Bagian tengah terdiri dari bangunan gapura utama, lapangan, Candi Pembakaran, kolam, batu berumpak, Paseban. Sementara, bagian tenggara meliputi Pendopo, Balai-Balai, 3 candi, kolam, dan kompleks Keputren. Kompleks gua, Stupa Budha, kolam terdapat bagian timur. Sedangkan bagian barat hanya terdiri atas perbukitan.

Bila masuk dari pintu gerbang istana, anda akan langsung menuju ke bagian tengah. Dua buah gapura tinggi akan menyambut anda. Gapura pertama memiliki 3 pintu sementara gapura kedua memiliki 5 pintu. Bila anda cermat, pada gapura pertama akan ditemukan tulisan 'Panabwara'. Kata itu, berdasarkan prasasti Wanua Tengah III, dituliskan oleh Rakai Panabwara, (keturunan Rakai Panangkaran) mengambil alih istana. Tujuan penulisan namanya adalah untuk melegitimasi kekuasaan, memberi 'kekuatan' sehingga lebih agung dan memberi tanda bahwa bangunan itu adalah bangunan utama.

Sekitar 45 meter dari gapura kedua, anda akan menemui bangungan candi berbahan dasar batu putih sehingga disebut Candi Batu Putih. Tak jauh dari situ, akan ditemukan pula Candi Pembakaran. Candi itu berbentuk bujur sangkar (26 meter x 26 meter) memiliki 2 teras. Sesuai namanya, candi itu digunakan untuk pembakaran jenasah. Selain kedua candi itu, sebuah batu berumpak dan kolam akan ditemui kemudian bila anda berjalan kurang lebih 10 meter dari Candi Pembakaran.
wisata-jogja
Gambar 1.3 istana ratu boko
Sumur penuh misteri akan ditemui bila berjalan ke arah tenggara dari Candi Pembakaran. Konon, sumur tersebut bernama Amerta Mantana berarti air suci diberikan mantra. Kini, airnya pun masih sering dipakai. Masyarakat setempat mengatakan, air sumur itu dapat membawa keberuntungan bagi pemakainya. Sementara orang-orang Hindu menggunakannya untuk Upacara Tawur agung sehari sebelum Nyepi. Penggunaan air dalam upacara diyakini dapat mendukung tujuannya, yaitu untuk memurnikan diri kembali serta mengembalikan bumi isinya pada harmoni awalnya. YogYES menyarankan anda berkunjung ke Candi Prambanan sehari sebelum Nyepi jika ingin melihat proses upacaranya.

Melangkah ke bagian timur istana, anda akan menjumpai dua buah gua, kolam besar berukuran 20 meter x 50 meter dan stupa Budha terlihat tenang. Dua buah gua itu terbentuk dari batuan sedimen disebut Breksi Pumis. Wisata Gua yang berada lebih atas dinamakan Gua Lanang sedangkan yang berada di bawah disebut Wisata Gua Wadon. Persis di muka Gua Lanang terdapat sebuah kolam dan tiga stupa. Berdasarkan sebuah penelitian, diketahui bahwa stupa itu merupakan Aksobya, salah satu Pantheon Budha.
wisata-jogja
Gambar 1.4 istana ratu boko
Meski didirikan oleh seorang Budha, istana ini memiliki unsur-unsur Hindu. Itu dapat dilihat dengan adanya Lingga, Yoni, arca Ganesha, serta lempengan emas bertuliskan "Om Rudra ya namah swaha" sebagai bentuk pemujaan terhadap Dewa Rudra merupakan nama lain Dewa Siwa. Adanya unsur-unsur Hindu itu membuktikan adanya toleransi umat beragama tercermin dalam karya arsitektural. Memang, saat itu Rakai Panangkaran merupakan pengikut Budha hidup berdampingan dengan para pengikut Hindu.

Sedikit yang tahu bahwa istana ini adalah saksi bisu awal kejayaan di tanah Sumatera. Balaputradewa sempat melarikan diri ke istana ini sebelum ke Sumatera ketika diserang oleh Rakai Pikatan. Balaputradewa memberontak karena merasa sebagai orang nomor dua di pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno akibat pernikahan Rakai Pikatan dengan Pramudhawardani (saudara Balaputradewa. Setelah ia kalah dan melarikan diri ke Sumatera, barulah ia menjadi raja di Kerajaan Sriwijaya.

Sebagai sebuah bangunan peninggalan, Wisata Jogja Istana Ratu Boko memiliki keunikan dibanding peninggalan lain. Jika bangunan lain umumnya berupa candi atau kuil, maka sesuai namanya istana ini menunjukkan ciri-ciri sebagai tempat tinggal. Itu ditunjukkan dari adanya bangunan berupa tiang dan atap terbuat dari bahan kayu, meski kini tertinggal hanya batur-batur dari batu saja. Telusurilah istana ini, maka anda akan mendapatkan lebih banyak lagi, salah satunya pemandangan senja yang sangat indah. Seorang turis asal Amerika Serikat mengatakan, "Inilah senja yang terindah di bumi."
Read More
CANDI MENDUT

CANDI MENDUT

wisata-jogja
Gambar 1.1 candi mendut
Singgasana untuk Arca Buddha Raksasa. Wisata Jogja Candi Mendut merupakan Candi Buddha dibangun oleh Raja Indra dari Wangsa Syailendra. Relung Wisata Jogja Candi Mendut menjadi singgasana untuk arca Buddha berukuran besar. Beragam peninggalan mencerminkan kejayaan dan kemegahan masa lalu tersebar di berbagai penjuru nusantara. Salah satu sisa kemegahan masa lalu adalah Candi Mendut terletak sekitar 3 km arah timur dari Candi Borobudur.

Prasasti Kayumwungan  ditemukan di Karangtengah menyebutkan bahwa Candi Mendut dibangun oleh Raja Indra dari Dinasti Syailendra. Candi berbentuk persegi empat dengan atap bertingkat dihiasi stupa-stupa kecil ini dibangun lebih dulu daripada Wisata Jogja Candi Pawon nan Wisata Jogja Candi Borobudur yang terletak dalam satu garis lurus. Berbeda dengan Candi Borobudur menghadap ke arah matahari terbit, maka pintu masuk Wisata Jogja Candi Mendut menghadap ke arah barat.
wisata-jogja
Gambar 1.2 candi mendut
Pagi itu kala Wisatawan mengunjungi candi tampak beberapa siswi SMA, wisatawan asing sedang menaiki tangga candi. Dari kejauhan Wisata Jogja Candi Mendut terlihat anggun nan kokoh berdiri di atas kaki candi setinggi 3,70 m. Sesampainya di pelataran, Wisatawan berjalan mengitari kaki candi serta menemukan beberapa panel relief yang mengisahkan tentang burung, kura-kura, kera, burung manyar, brahmana, kepiting, serta sejumlah fabel lainnya. Sepintas lalu relief itu terlihat seperti cerita yang ditujukan untuk anak-anak, namun sejatinya relief hanya menggambarkan kisah jataka itu memberikan pesan moral bagi semua Wisatawan Wisata Jogja Candi Mendut.

Naik ke badan candi, Wisatawan bisa menemukan 8 relief Bodhisattva dengan berbagai sikap tangan serta berukuran jauh lebih besar dibandingkan dengan panel relief di Wisata Jogja Candi Borobudur. Saat melangkahkan kaki memasuki bilik candi, semerbak wangi bunga bercampur dengan aroma hio tercium dengan jelas. Tiga arca setinggi 3 meter disinari cahaya keemasan menyambut wisatawan. Arca-arca berukuran besar yang berada di bilik Candi Mendut itu adalah arca Dyani Buddha Cakyamuni atau Vairocana, arca Avalokitesvara, arca Bodhisatva Vajrapani.
wisata-jogja
Gambar 1.3 candi mendut
Arca Dyani Buddha Cakyamuni berada di tengah duduk dengan kedua kaki menyiku ke bawah dengan sikap tangan memutar roda dharma. Dipahat dari batu utuh dengan kecermatan tinggi membuat tiga arca itu nampak anggun dan gagah. Di depan arca Buddha terdapat rangkaian bunga segar, hiolo, hio. Puas menikmati keindahan Wisata Jogja Candi Mendut dan ketiga arca raksasanya, Kami meninggalkan gerbang candi melewati deretan kios suvenir. Tak jauh dari candi terdapat Buddhist Monastery yang hening dan terbuka untuk umum. Bunga teratai yang bermekaran di kolam serta sejumlah stupa yang berjajar menghiasi jalan masuk Buddhist Monastery.
Setiap malam mulai pukul 19.00 - 20.00 WIB, di tempat ini dilakukan ritual chanting atau meditasi dengan cara mendengarkan alunan musik serta nyanyian. Tak harus beragama Buddha, siapapun boleh mengikuti ritual chanting. Namun sayang, saat kami mengunjungi Buddhist Monastery pada malam hari ritual chanting baru saja usai. Kami pun beranjak pergi meninggalkan Buddhist Monastery dan Wisata Jogja Candi Mendut yang berdiri dengan megah di tengah kegelapan.
Read More
TAMAN SARI

TAMAN SARI

wisata-jogja
Gambar 1.1 taman sari
Istana Air penuh Keindahan serta Rahasia. Gemercik air, keindahan arsitektur kuno, pemandangan nan menakjubkan membuat Wisata Jogja Taman Sari sangat mempesona. Lorong-lorong serta bangunannya menjadikan Taman Sari penuh rahasia akan terus dikuak.

Masa setelah Perjanjian Giyanti, Pangeran Mangkubumi membangun keraton sebagai pusat pemerintahan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I membangun keraton tengah sumbu imajiner nang membentang antara Gunung Merapi-Pantai Parangtritis. Titik yang menjadi acuan pembangunan keraton adalah sebuah umbul (mata air).

Untuk menghormati jasa istri-istri Sultan karena telah membantu selama masa peperangan, beliau memerintahkan Demak Tegis seorang arsitek berkebangsaan Portugis, Bupati Madiun sebagai mandor untuk membangun sebuah istana di umbul yang terletak 500 meter selatan keraton. Istana yang dikelilingi segaran (danau buatan) dengan wewangian dari bunga-bunga ditanam pada pulau buatan itu sekarang dikenal dengan nama Wisata Jogja Taman Sari.

"Dari atas Gapura Panggung ini Sultan biasa menyaksikan tari-tarian di bawah sana. Bangunan-bangunan disampingnya merupakan tempat para penabuh, ditengah-tengah biasa didirikan panggung tempat para penari menunjukkan kepiawaian nan keluwesan mereka," terang seorang pemandu ketika kami memasuki Wisata Jogja Taman Sari. Gapura Panggung, pemandu membawa kami masuk ke sebuah area katanya dulu hanya diperbolehkan untuk Sultan dan keluarganya, kolam pemandian Wisata Jogja Taman Sari. Gemericik air langsung menyapa.
wisata-jogja
Gambar 1.2 taman sari
Airnya jernih berpadu apik dengan tembok-tembok krem gagah mengitarinya. Kolam pemandian area ini dibagi menjadi tiga yaitu Umbul Kawitan (kolam untuk putra-putri Raja), Umbul Pamuncar (kolam untuk para selir), Umbul Panguras (kolam untuk Raja). Sebuah periuk tempat istri-istri Sultan bercermin masih utuh berdiri ketika Wisatawan memasuki menara tempat pribadi Sultan. Ornamen penghias periuk memberi kesan glamor terhadap benda yang terletak samping lemari pakaian Sultan tersebut. Bisa dibayangkan, 200 tahun lalu seorang wanita cantik menunggu air di periuk ini hingga tenang lalu dia menundukkan kepalanya, memperbaiki riasan dan sanggulnya, memperindah raganya sembari bercermin. Selain periuk kamar pribadi Sultan, pada terdiri tiga tingkat ini ada tangga kayu jati masih utuh terawat sehingga memberi kesan antik bagi siapa pun melihatnya.

Naik ke tingkat paling atas, pantulan mentari kolam di bawahnya beserta area Wisata Jogja Taman Sari terlihat jelas. Mungkin dahulu Sultan juga menikmati pemandangan atas sini, pemandangan Taman Sari masih lengkap dengan danau buatannya, bunga-bunga semerbak mewangi. Selepas menikmati pemandangan atas menara, pemandu lalu membawa kami menuju Gapura Agung, tempat kedatangan kereta kencana nan biasa dinaiki Sultan bersama keluarganya.
wisata-jogja
Gambar 1.3 taman sari
Gapura ini dominan dengan ornamen bunga, sayap burung ini menjadi pintu masuk bagi keluarga Sultan hendak memasuki Taman Sari. Pesanggrahan tepat di selatan Taman Sari menjadi tujuan berikutnya. Sebelum berperang, Sultan akan bersemedi di tempat ini. Suasana senyap, hening langsung terasa ketika Wisatawan masuk. Di sini, Sultan pastilah memikirkan berbagai cara negosiasi lalu strategi perang supaya kedaulatan Keraton Yogyakarta tetap terjaga. Areal ini juga menjadi tempat penyimpanan senjata-senjata, baju perang, tempat penyucian keris-keris jaman dahulu. Pelatarannya biasa digunakan para prajurit berlatih pedang.
kami pun berpisah dengan pemandu di depan Gapura Agung. Namun, ini bukan berarti perjalanan terhenti karena masih ada beberapa tempat untuk disinggahi seperti Sumur Gumuling, Gedung Kenongo. Untuk menuju tempat tersebut, Wisatawan harus melewati Tajug, lorong penghubung Taman Sari dengan keraton dan juga Pulo Kenongo. Lorong bawah tanah lebar ini memang untuk berjaga-jaga apabila keraton dalam keadaan genting.
wisata-jogja
Gambar 1.4 taman sari
Ruang rahasia banyak tersembunyi di tempat ini. Keluar Tajug, Wisatawan akan melihat bekas Pulo Kenongo katanya dulu banyak ditumbuhi bunga kenanga penyedap Wisata Jogja Taman Sari.kami pun menuju Sumur Gumuling, masjid bawah tanah tempat peribadatan raja bersama keluarga. Bangunan dua tingkat didesain memiliki sisi akustik baik. Jadi, pada zaman dahulu, ketika imam mempimpin shalat, suara imam dapat terdengar dengan baik ke segala penjuru.

Sekarang pun, hal itu masih dapat dirasakan. Suara percakapan orang-orang jauh terasa seperti mereka sedang berada di samping kita. Selain itu, Untuk menuju ke pusat masjid ini, lagi-lagi harus melewati lorong-lorong gelap. Sesampainya di tengah masjid berupa tempat berbentuk persegi dengan 5 anak tangga di sekelilingnya, keagungan semakin terasa. Ketika menengadahkan kepala terlihat langit biru. Suara burung terdengar mulai permukiman penduduk di area Wisata Jogja Taman Sari semakin menambah tenteram suasana.

Persinggahan terakhir adalah Gedung Kenongo. Gedung duludigunakan sebagai tempat raja bersantap ini merupakan gedung tertinggi se-Taman Sari. Di tempat ini Anda dapat menikmati golden sunset penuh pesona. Keseluruhan Taman Sari pun bisa dilihat sejak disini, seperti Masjid Soko Guru di sebelah timur dan ventilasi-ventilasi Tajug. Puas dengan kesegaran air Wisata Jogja Taman Sari, langit akan menyapa. Pemandangan indah sekaligus mempesona ditawarkan Taman Sari. Pesona air apik berpadu dengan tembok-tembok bergaya campuran Eropa, Hindu, Jawa, China menjadi nilai Wisata Jogja Taman Sari tak akan terlupakan.
Read More
CANDI BOROBUDUR

CANDI BOROBUDUR

wisata-jogja
Gambar 1.1 candi borobudur
Mahakarya Arsitektur Abad ke-9
Candi Borobudur merupakan wisata jogja sekaligus monumen Buddha termegah nan kompleks stupa terbesar di dunia dan diakui oleh UNESCO. Bangunan Wisata Jogja Candi Borobudur secara keseluruhan menjadi galeri akan mahakarya para pemahat batu.
Jauh sebelum Angkor Wat berdiri, wisata jogja Candi Borobudur telah berdiri dengan gagah di tanah Jawa. Bangunan yang disebut UNESCO sebagai monumen kompleks stupa termegah serta terbesar di dunia ini ramai dikunjungi oleh peziarah pada pertengahan abad ke-9 hingga awal abad ke-11. Umat Buddha ingin mendapatkan pencerahan berduyun-duyun datang dari India, Kamboja, Tibet, dan China. Tidak hanya megah dan besar, dinding wisata jogja Candi Borobudur dipenuhi pahatan 2672 panel relief jika disusun berjajar akan mencapai panjang 6 km! Hal ini dipuji sebagai ansambel relief Buddha terbesar, terlengkap di dunia, tak tertandingi dalam nilai seni.

Relief terpahat pada dinding wisata jogja candi ini terbagi menjadi 4 kisah utama yakni Karmawibangga, Lalita Wistara, Jataka Awadana, serta Gandawyuda. Selain mengisahkan tentang perjalanan hidup Sang Buddha serta ajaran-ajarannya, relief tersebut juga merekam kemajuan masyarakat Jawa pada masa itu. Bukti bahwa nenek moyang Bangsa Indonesia adalah pelaut ulung, tangguh dapat dilihat pada 10 relief kapal.
wisata-jogja
Gambar 1.2 candi borobudur
Salah satu relief kapal dijadikan model dalam membuat replika kapal digunakan untuk mengarungi The Cinnamon Route dari Jawa hingga benua Afrika. Saat ini replika kapal disebut sebagai Kapal Borobudur itu disimpan di Museum Samudra Raksa.

Untuk mengikuti alur jalinan kisah terpahat pada dinding Wisata Jogja candi ini, wisatawan harus berjalan mengitari candi searah jarum jam dikenal dengan istilah pradaksina. Masuk melalui pintu timur, berjalan searah jarum jam agar posisi candi selalu ada pada sebelah kanan, hingga tiba. Tangga timur dengan melangkahkan kaki naik ke tingkat berikutnya. Hal ini dilakukan berulang-ulang hingga semua tingkat terlewati dan berada pada puncak candi berbentuk stupa induk. Sesampai puncak, layangkanlah pandangan ke segala arah maka akan terlihat deretan Perbukitan Menoreh, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi, Gunung Merbabu berdiri tegak mengitari candi. Gunung, perbukitan tersebut seolah-olah menjadi pembenteng keberadaan Candi Borobudur.

Berdasarkan prasasti Kayumwungan pada tanggal 26 Mei 824, wisata jogja Candi Borobudur dibangun oleh Raja Samaratungga antara abad ke-8 hingga abad ke-9, berbarengan dengan Candi Mendut, Candi Pawon. Proses pembangunan berlangsung selama 75 tahun dibawah kepemimpinan arsitek Gunadarma. Meski belum mengenal komputer dan peralatan canggih lainnya, Gunadarma mampu menerapkan sistem interlock dalam pembangunan candi. Sebanyak 60.000 meter kubik batu andesit berjumlah 2.000.000 balok batu diusung dari Sungai Elo dan Progo dipahat dan dirangkai menjadi puzzle raksasa yang menutupi sebuah bukit kecil hingga terbentuk wisata jogja dengan nama Candi Borobudur.
wisata-jogja
Gambar 1.3 candi borobudur
Borobudur merupakan Wisata Jogja yang memiliki nilai seni teramat tinggi, karya agung menjadi bukti peradaban manusia pada masa lalu ini juga sarat dengan nilai filosofis. Mengusung konsep mandala, melambangkan kosmologi alam semesta dalam ajaran Buddha, bangunan megah ini dibagi menjadi tiga tingkatan, yakni dunia hasrat atau nafsu (Kamadhatu), dunia bentuk (Rupadhatu), dunia tanpa bentuk (Arupadhatu). Jika dilihat dari ketinggian, wisata jogja Candi Borobudur laksana ceplok teratai diatas bukit. Dinding-dinding candi berada pada tingkatan Kamadatu, Rupadatu sebagai kelopak bunga, sedangkan deretan stupa melingkar,tingkat Arupadatu menjadi benang sarinya. Stupa Induk melambangkan Sang Buddha, sehingga secara utuh Borobudur menggambarkan Buddha sedang duduk diatas kelopak bunga teratai.

Menikmati kemegahan wisata jogja Candi Borobudur tidak hanya cukup dengan berjalan menyusuri lorong, naik ke tingkat teratas candi. Satu hal jangan dilewatkan adalah menyaksikan Borobudur Sunrise dan Borobudur Sunset dari atas candi. Siraman cahaya mentari pagi menerpa stupa dan arca Buddha membuat keagungan dan kemegahan candi lebih terasa. Sedangkan berdiri di puncak candi dikala senja bersama deretan stupa dan menyaksikan sinar matahari perlahan mulai lindap akan menciptakan perasaan tenang nan damai.
Read More
CANDI IJO

CANDI IJO

wisata-jogja
Gambar 1.1 candi ijo
Candi ini merupakan salah satu destinasi tujuan wisata jogja dapat menyuguhkan pesona alam, budaya serta pesawat yang tengah landing. Candi inilah yang membuat landasan Bandara Adisutjipto tak bisa diperpanjang ke arah timur.

Menyusuri jalan menuju bagian selatan kompleks Istana Ratu Boko merupakan Tempat wisata Jogja yang perjalanannya mengasikkan , terutama bagi penikmat Wisata Jogja yang suka akan budaya. Bagaimana tidak, bangunan candi di sana bertebaran bak cendawan saat musim hujan sungguh tempat wisata jogja Recomendedd. Satu antaranya belum banyak menjadi perbincangan adalah Candi Ijo, sebuah candi yang letaknya paling tinggi di antara candi-candi lain sekitar Daerah Istimewa Yogyakarta.

Candi Ijo dibangun sekitar abad ke-9,dikenal Bukit Hijau atau Gumuk Ijo ketinggiannya sekitar 410 m di atas permukaan laut. Karena ketinggiannya, maka bukan saja bangunan candi ini bisa dinikmati tetapi juga sasaran wisata jogja akan pemandangan alam di bawahnya berupa teras-teras seperti daerah pertanian  kemiringan curam. Meski bukan daerah subur, sensasi alam sekitar candi sangat indah untuk menikmati wisata jogja.
wisata-jogja
Gambar 1.2 candi ijo
Kompleks candi terdiri dari 17 struktur bangunan terbagi dalam 11 teras berundak. Teras pertama sekaligus halaman menuju pintu masuk merupakan teras berundak membujur dari barat ke timur. Bangunan di teras ke-11 berupa pagar keliling, delapan buah lingga patok, empat bangunan yaitu candi utama, tiga candi perwara. Peletakan bangunan tiap teras didasarkan atas kesakralannya. Bangunan teras tertinggi adalah paling sakral.

Ragam bentuk seni rupa dijumpai sejak pintu masuk bangunan ini  tergolong candi Hindu. Tepat diatas pintu masuk terdapat kala makara motif kepala ganda dengan beberapa atributnya membuat ciri khas Wisata Jogja sungguh indah. Motif kepala ganda dan atributnya juga bisa dijumpai candi Buddha menunjukkan bahwa candi itu adalah bentuk akulturasi kebudayaan Hindu dan Buddha. Beberapa candi memiliki motif kala makara serupa antara lain Ngawen, Plaosan dan Sari.

Ada pula arca gambar sosok perempuan dan laki-laki yang melayang, mengarah ke sisi tertentu. Sosok tersebut dapat mempunyai beberapa makna. Pertama, sebagai suwuk untuk mengusir roh jahat, yang kedua sebagai lambang persatuan Dewa Siwa dan Dewi Uma. Persatuan tersebut memaknai sebagai awal terciptanya alam semesta. Berbeda dengan arca Candi Prambanan, corak naturalis arca Candi Ijo tidak mengarah pada erotisme,wisatawan wajib mengunjungi indahnya wisata jogja.
wisata-jogja
Gambar 1.3 candi ijo
Menuju bangunan candi perwara teras ke-11, terdapat sebuah tempat seperti bak tempat api pengorbanan (homa). Tepat bagian atas tembok belakang bak tersebut terdapat lubang-lubang udara atau ventilasi berbentuk jajaran genjang dan segitiga. Ada tempat api pengorbanan merupakan cermin masyarakat Hindu memuja Brahma. Tiga candi perwara menunjukkan penghormatan masyarakat Hindu Trimurti, yaitu Brahma, Siwa, dan Whisnu.

Salah satu karya ini menyimpan misteri adalah dua buah prasasti yang terletak pada bangunan candi teras ke-9. Salah satu prasasti kode F bertuliskan Guywan atau Bluyutan berarti pertapaan. Prasasti lain terbuat dari batu berukuran tinggi 14 cm serta tebal 9 cm memuat mantra-mantra diperkirakan berupa kutukan. Mantra tersebut ditulis sebanyak 16 kali dan antaranya terbaca adalah "Om Sarwwawinasa, Sarwwawinasa." Bisa jadi, kedua prasasti tersebut erat akan terjadinya peristiwa tertentu Jawa saat itu. Apakah peristiwanya? Hingga kini belum terkuak.

Mengunjungi candi Wisata Jogja ini, wisatawan bisa menjumpai panorama indah yang ada di wisata jogja jadi tak akan bisa menjumpai candi lainnya. Bila menghadap ke arah barat dan memandang ke bawah, wisatawan bisa melihat pesawat take off, landing di Bandara Adisutjipto. Panorama itu dapat dijumpai Pegunungan Seribu tempat berdiri candi ini menjadi batas bagian timur bandara. Karena keberadaan candi pegunungan itu pula, landasan Bandara Adisutjipto tak bisa diperpanjang ke arah timur.

Setiap detail candi menyuguhkan sesuatu bermakna serta mengajak penikmatnya untuk berefleksi sehingga perjalanan wisata jogja tak sekedar ajang bersenang-senang. Ada banyak karya seni rupa hebat tanpa disertai nama pembuatnya menunjukkan pandangan masyarakat Jawa saat itu  lebih menitik beratkan ke pesan moral dibawa oleh suatu karya seni, bukan si pembuat atau kemegahan karya seninya.
Read More